![]() |
| Baret Mega Lanang, Ketua Organisasi Massa Jombang |
JOMBANG, POPULARITAS NEWS — Baret Mega Lanang, memandang organisasi bukan soal siapa yang paling banyak anggotanya, paling ramai atributnya, atau paling keras suaranya. Organisasi adalah tentang seberapa besar keberadaannya memberi manfaat bagi masyarakat. Sebab ketika organisasi mulai sibuk menghitung kekuatan kelompok, tetapi lupa menghitung manfaat yang diberikan, di situlah organisasi perlahan kehilangan alasan kenapa ia dibentuk.
Jombang itu unik. Dijuluki Kota Santri, punya banyak pesantren, kiai, ulama, tokoh masyarakat, organisasi keagamaan, kepemudaan hingga berbagai kelompok sosial.
Belakangan, ruang sosial Jombang juga makin ramai. Organisasi masyarakat datang silih berganti. Ada yang membawa program sosial, ada yang bergerak di bidang kepemudaan, ekonomi, kemanusiaan, advokasi, sampai organisasi yang lebih banyak terlihat ketika ada persoalan.
Sebenarnya, tidak ada yang salah.
Namanya juga negara demokrasi. Masyarakat punya hak untuk berserikat dan berkumpul. Sepanjang kegiatannya sesuai aturan hukum, ya monggo saja.
Tapi ada satu hal yang jangan sampai dilupakan: Jombang punya karakter.
Dan karakter itu tidak dibangun sehari dua hari.
Ada tradisi pesantren, unggah-ungguh, guyub rukun, gotong royong, musyawarah dan kebiasaan menyelesaikan persoalan dengan komunikasi.
Bahasa gampangnya: nek iso dirembug, lapo kudu rame?
Di sinilah persoalannya mulai menarik.
Bukan soal organisasi mana yang datang.
Bukan soal organisasi lokal atau organisasi dari luar daerah.
Bukan pula soal siapa yang punya anggota paling banyak.
Yang patut dilihat adalah cara organisasi tersebut hadir dan berinteraksi dengan masyarakat.
Sebab organisasi seharusnya menjadi bagian dari solusi, bukan malah menambah persoalan.
Organisasi Banyak, Jangan Sampai Jadi Adu Gengsi
Semakin banyak organisasi sebenarnya bisa menjadi modal sosial bagi Jombang.
Semakin banyak organisasi berarti semakin banyak pula masyarakat yang memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, melakukan kegiatan sosial, mengawal kebijakan pemerintah dan memperjuangkan kepentingan publik.
Bagus.
Asalkan fungsi itu benar-benar dijalankan.
Yang menjadi problem ketika organisasi mulai terjebak pada urusan eksistensi.
Atribut makin ramai.
Struktur makin banyak.
Anggota makin banyak.
Jaringan makin luas.
Tetapi ketika ditanya manfaatnya bagi masyarakat, jawabannya justru samar.
Lebih repot lagi kalau organisasi mulai memakai ukuran sederhana: siapa yang punya massa paling banyak, dia yang paling kuat.
Lha, kalau logikanya seperti itu, masyarakat mau dibawa ke mana?
Demokrasi bukan lomba banyak-banyakan massa.
Kebenaran juga tidak ditentukan oleh berapa banyak orang yang memakai seragam sama.
Kalau ada persoalan, tidak harus selalu diselesaikan dengan pengerahan orang.
Kadang cukup duduk satu meja, Ngopi, Rembugan, Selesai.
Ojo kabeh masalah digawe tontonan.
Resonansi Antarorganisasi Perlu Dijaga
Fenomena yang menarik di Jombang adalah munculnya semakin banyak organisasi dengan karakter, jaringan dan kepentingan yang berbeda.
Ini sebenarnya bisa menjadi energi positif.
Tapi kalau tidak dikelola dengan dewasa, resonansi antarorganisasi bisa berubah menjadi gesekan.
Satu kelompok merasa paling punya wilayah.
Kelompok lain merasa paling punya massa.
Yang satu merasa paling berpengaruh.
Yang lain merasa paling dekat dengan masyarakat.
Akhirnya, persoalan kecil bisa melebar hanya karena masing-masing ingin menunjukkan siapa yang lebih kuat.
Kalau sudah begini, organisasi bukan lagi menjadi jembatan.
Malah berubah menjadi tembok.
Dan masyarakat yang berada di tengah akhirnya cuma bisa bilang, “Lho, kok dadi ngene?”
Padahal persoalan awalnya mungkin sederhana.
Perbedaan pendapat.
Salah komunikasi.
Persoalan kepentingan.
Atau sekadar miskomunikasi yang sebenarnya bisa selesai dalam satu kali pertemuan.
Tetapi karena dibawa ke ruang publik dan melibatkan identitas kelompok, persoalan kemudian membesar.
Inilah yang perlu harus diwaspadai.
Jombang Bukan Anti Organisas.
Jangan salah memahami kritik ini.
Jombang tidak anti organisasi.
Justru sebaliknya.
Jombang membutuhkan organisasi yang sehat.
Organisasi yang berani mengkritik pemerintah ketika ada kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat.
Organisasi yang berani mengawal persoalan sosial.
Organisasi yang membantu masyarakat kecil.
Organisasi yang bergerak ketika ada bencana.
Organisasi yang memberikan pendidikan kepada anak muda.
Organisasi yang tidak hanya muncul ketika kamera menyala.
Karena ukuran organisasi bukan sekadar berapa banyak orang yang bisa dikumpulkan.
Ukuran organisasi juga terlihat dari berapa banyak persoalan masyarakat yang bisa dibantu diselesaikan.
Kalau hanya mampu mengumpulkan massa, itu belum tentu prestasi.
Tetapi kalau mampu mengumpulkan orang untuk membantu masyarakat, membangun ekonomi, mendidik anak muda dan mengawal kepentingan publik, itu baru punya arti.
Ojo Membawa Gaya Premanisme
Yang perlu dikritisi bukan asal organisasi, tetapi perilaku. Kalau ada organisasi dari luar Jombang datang membawa kegiatan positif, monggo. Kalau membantu masyarakat, silakan.
Kalau ingin berinvestasi sosial, bekerja sama dengan pemerintah, melakukan pemberdayaan, bahkan mengkritik kebijakan, itu bagian dari kehidupan demokrasi.
Tetapi kalau ada individu atau kelompok yang menggunakan intimidasi, ancaman, tekanan, kekerasan verbal maupun fisik untuk menyelesaikan persoalan, ya itu yang harus ditolak.
Ojo dibiasakan.
Sebab kalau gaya seperti itu dibiarkan, lama-lama masyarakat akan menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.
Hari ini ancaman.
Besok pengerahan massa.
Lusa tekanan.
Akhirnya setiap persoalan diselesaikan bukan dengan argumentasi, tetapi dengan siapa yang datang membawa orang paling banyak.
Kalau sudah begitu, ruang publik kita yang rusak.
Organisasi yang seharusnya menjadi tempat belajar demokrasi malah berubah menjadi arena adu kekuatan.
Dan kalau budaya itu tumbuh di Kota Santri, pertanyaannya sederhana:
Arek Jombang arep dikenal karena apa?
Karena tradisi pesantrennya?
Karena budaya guyubnya?
Karena tokoh-tokoh besarnya?
Atau karena ribut antar kelompok?
Sejarah Jombang Tidak Dibangun dengan Adu Otot
Jombang memiliki sejarah panjang, Pesantren tumbuh., Pemikiran berkembang, Tokoh-tokoh besar lahir dan berproses.
Perbedaan pemikiran juga pernah hidup di daerah ini.
Artinya, masyarakat Jombang bukan masyarakat yang alergi terhadap perbedaan.
Justru sejak dulu perbedaan menjadi bagian dari dinamika kehidupan.
Tetapi ada satu warisan yang mestinya jangan hilang: cara menghadapi perbedaan.
Berbeda tidak harus bermusuhan.
Berbeda pendapat tidak berarti harus saling mengancam.
Berbeda organisasi tidak berarti harus saling menunjukkan kekuatan.
Dan berbeda pilihan tidak menjadikan seseorang lebih tinggi dari yang lain.
Karena itu, organisasi apa pun yang hadir di Jombang seharusnya memahami kultur masyarakat setempat.
Bukan berarti harus kehilangan identitas.
Bukan berarti harus mengikuti semua kebiasaan lokal.
Tetapi minimal memahami bahwa masyarakat Jombang punya tradisi unggah-ungguh dan rembugan.
Ada persoalan, dibicarakan.
Ada perbedaan, dimusyawarahkan.
Ada dugaan pelanggaran hukum, dilaporkan.
Ada kritik, dijawab dengan data.
Gak perlu otot-ototan.
Jangan Sampai Kota Santri Kehilangan Suara Khasnya
Sebagai pemuda Jombang, penulis melihat persoalan ini bukan sebagai pertarungan antara organisasi lokal dengan organisasi luar.
Itu cara pandang yang terlalu sempit.
Yang perlu dijaga adalah ruang sosial Jombang agar tetap sehat.
Siapa pun boleh datang.
Siapa pun boleh berorganisas
Siapa pun boleh menyampaikan aspirasi.
Tetapi semua harus berdiri pada ukuran yang sama: hukum, etika dan penghormatan terhadap masyarakat.
Jangan karena merasa punya banyak anggota kemudian merasa bisa melakukan apa saja.
Jangan karena punya jaringan kemudian merasa kebal kritik.
Jangan karena punya atribut organisasi kemudian merasa lebih tinggi daripada masyarakat biasa.
Sebab dalam negara hukum, jumlah massa tidak pernah menjadi pengganti hukum.
Dan seragam organisasi bukan tiket untuk mendapatkan perlakuan istimewa.
Jombang boleh ramai.
Organisasi boleh banyak.
Aktivitas sosial boleh berkembang.
Tetapi jangan sampai rame organisasinya, sepi manfaatnya.
Jangan sampai banyak kelompok berdiri, tetapi masyarakat justru semakin bingung harus meminta bantuan kepada siapa.
Jangan sampai organisasi sibuk membangun nama, sementara persoalan rakyat dibiarkan.
Dan yang paling penting, jangan sampai perbedaan organisasi membuat masyarakat terbelah.
Jombang Terbuka, Tapi Ojo Kehilangan Jati Diri
Jombang bukan daerah tertutup.
Pintu terbuka untuk siapa pun yang ingin bekerja, berkarya, berorganisasi dan memberikan manfaat.
Tetapi keterbukaan bukan berarti masyarakat harus menerima semua perilaku.
Ada batas yang harus dihormati.
Kebebasan bukan berarti bebas mengintimidasi.
Kritik bukan ancaman.
Advokasi bukan tekanan.
Organisasi bukan alat untuk menakut-nakuti.
Dan massa bukan ukuran kebenaran.
Jombang punya cara sendiri dalam menjaga kehidupan sosial.
Ada pesantren.
Ada kiai.
Ada tradisi musyawarah.
Ada gotong royong.
Ada budaya guyub.
Ada unggah-ungguh.
Semua itu bukan sekadar romantisme masa lalu.
Itulah modal sosial yang membuat Jombang tetap menjadi Jombang.
Maka pesannya sederhana.
Ojo nggowo budaya premanisme nang Jombang.
Datanglah membawa gagasan.
Bangunlah manfaat.
Bantu masyarakat.
Hormati sesama.
Kalau ada masalah, ngopi sek, rembugan.
Kalau belum selesai, cari jalan hukum.
Kalau masih berbeda, ya tidak apa-apa.
Namanya juga hidup bermasyarakat.
Yang penting jangan sampai perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Sebab pada akhirnya, Jombang bukan milik satu organisasi.
Bukan milik satu kelompok.
Bukan milik satu golongan.
Jombang adalah rumah bersama.
Rumah yang boleh ramai.
Rumah yang boleh berbeda.
Rumah yang boleh dikritik.
Tetapi rumah yang tetap harus dijaga adabnya.
Karena kalau organisasi semakin banyak tetapi adab semakin hilang, lalu apa yang sebenarnya sedang kita bangun?
Organisasi masyarakat, atau sekadar panggung adu kekuatan?
Jombang tidak membutuhkan yang paling garang.
Jombang membutuhkan mereka yang paling banyak memberi manfaat.
Ojo rame tok. Sing penting migunani.
Pikiran: Baret Mega Lanang
Editor: Brown
Redaksi: POPULARITAS NEWS
© Copyright 2026
