Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PBNU Minta Hari Santri 2026 Diawali Ziarah Makam Ulama, Bukan Sekadar Seremoni

Sunday, October 4, 2026 | October 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-04T09:28:14Z

 

Momen 22 ribu santri se-Jombang peringati Hari Santri Nasional pada tahun 2019 | Doc. Foto: Popularitas News


JAKARTA, POPULARITAS NEWS – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan peringatan Hari Santri Nasional 2026 tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Seluruh jajaran Nahdlatul Ulama (NU) diminta menghidupkan kembali akar tradisi sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.


Arahan tersebut tertuang dalam Surat Edaran PBNU Nomor 3/PB.01/A.II.10.47/99/10/2026 tentang Pedoman Pelaksanaan Hari Santri Nasional Tahun 2026. Surat diterbitkan di Jakarta pada 1 Oktober 2026 atau 19 Rabiul Akhir 1448 Hijriah.


Hari Santri 2026 mengusung tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.” Tema tersebut menjadi pijakan agar peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi momentum tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat tradisi keilmuan, spiritualitas, kepedulian sosial, serta semangat menjaga keutuhan bangsa.


Salah satu arahan yang menjadi perhatian dalam pedoman tersebut adalah pelaksanaan ziarah ke makam ulama sebelum rangkaian kegiatan Hari Santri digelar.


PBNU meminta seluruh tingkatan kepengurusan NU mengawali rangkaian peringatan dengan berziarah ke makam para ulama, aulia, maupun muharrik Nahdlatul Ulama di wilayah khidmah masing-masing.


“Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Santri Nasional Tahun 2026 agar diawali dengan ziarah ke makam para ulama, aulia' atau muharrik Nahdlatul Ulama di wilayah khidmah masing-masing,” demikian bunyi pedoman PBNU.


Ziarah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi sekaligus mengenang perjuangan para ulama dan penggerak NU terdahulu.


Dengan demikian, semangat Hari Santri tidak hanya diwujudkan melalui panggung dan seremoni, tetapi juga melalui penghormatan terhadap mata rantai perjuangan yang menjadi fondasi lahir dan berkembangnya tradisi pesantren serta Nahdlatul Ulama.


Selain ziarah, PBNU menginstruksikan seluruh tingkatan kepengurusan NU melaksanakan Apel Hari Santri Nasional secara serentak pada Kamis, 22 Oktober 2026.


Apel dapat dipusatkan di halaman sekretariat NU sesuai tingkatan kepengurusan. Pelaksanaannya juga dapat dilakukan di lingkungan pondok pesantren, rumah sakit atau klinik, sekolah atau madrasah, maupun perguruan tinggi NU.


Dalam apel tersebut, peserta laki-laki mengenakan sarung berwarna gelap, atasan putih, dan peci hitam. Sementara peserta perempuan mengenakan busana muslimah bernuansa putih dengan bawahan bebas atau menyesuaikan.


PBNU juga membuka ruang bagi jajaran Tanfidziyah maupun Badan Otonom NU untuk membacakan naskah Resolusi Jihad NU dalam rangkaian apel.


Rangkaian Hari Santri 2026 juga diarahkan untuk memperkuat kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan global.


PBNU menyerukan pelaksanaan “Mujahadah Kemanusiaan untuk Palestina” melalui majelis istighotsah, pembacaan shalawat, zikir berjamaah, maupun majelis doa lainnya.


Kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bagian dari riyadhah bathiniyyah sekaligus bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap rakyat Palestina.


PBNU juga memberikan sejumlah pilihan kegiatan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.


Kegiatan tersebut antara lain layanan konsultasi kesehatan gratis, donor darah, konsultasi keluarga dan zakat, serta kegiatan kepedulian lingkungan seperti sanitasi di pondok pesantren atau madrasah dan bersih-bersih masjid.


Selain itu, jajaran NU didorong menggelar halaqah bersama ulama dan pondok pesantren di wilayah khidmah masing-masing.


Arah tersebut menunjukkan bahwa Hari Santri 2026 hendak ditempatkan lebih dekat dengan kebutuhan jamaah dan masyarakat. Tradisi tidak hanya dirawat melalui simbol, tetapi diterjemahkan menjadi pelayanan dan pengabdian.



PBNU meminta seluruh rangkaian peringatan Hari Santri 2026 dilaksanakan dengan mengedepankan kekhidmatan, kesederhanaan, serta orientasi pada layanan kepada jamaah dan warga NU.


Pesan tersebut sejalan dengan tema “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.”


Hari Santri, dalam kerangka pedoman tersebut, bukan semata momentum mengenakan atribut santri atau menggelar apel. Lebih dari itu, peringatan ini diarahkan untuk menghubungkan kembali generasi hari ini dengan perjuangan para ulama, menjaga tradisi keilmuan dan spiritualitas pesantren, sekaligus memperluas pengabdian kepada masyarakat.


Pedoman Hari Santri Nasional 2026 tersebut ditandatangani secara elektronik oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Katib Aam Prof Mohammad Nuh, Ketua Umum PBNU KH Kikin A. Hakim, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Gudfan Arif.


Dengan rangkaian itu, PBNU ingin memastikan Hari Santri 2026 tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi momentum untuk kembali ke akar tradisi sekaligus memperkuat khidmah sosial dan kemanusiaan.(*) 



Penulis: Brown

Redaksi: POPULARITAS NEWS

© Copyright 2026


×
Berita Terbaru Update