JOMBANG, POPULARITAS NEWS– Pengembangan kawasan wisata tidak lagi semata-mata dipandang sebagai upaya mempercantik destinasi atau menarik kunjungan wisatawan. Di Desa Plabuhan, Kecamatan Plandaan, pengembangan Embung Ringin Jenggot mulai diarahkan sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Melalui program Pandora (Plandaan Dalam Panorama), Pemerintah Kecamatan Plandaan bersama Pemerintah Desa Plabuhan berupaya mengoptimalkan potensi Embung Ringin Jenggot atau Embung Grobogan sebagai destinasi wisata berbasis potensi lokal. Kawasan embung seluas sekitar 10 hektare itu selama ini dikenal masyarakat sebagai penampung air sekaligus pengendali banjir. Namun, di balik fungsi utamanya tersebut, tersimpan peluang ekonomi yang dinilai masih sangat terbuka untuk dikembangkan.
Kepala Desa Plabuhan Andi mengungkapkan, langkah awal yang dilakukan adalah memastikan aspek legalitas pemanfaatan kawasan melalui koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Menurutnya, kepastian perizinan menjadi fondasi penting agar pengembangan kawasan dapat berjalan tanpa menabrak aturan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat desa. Rabu, (17/6/2026).
Di lapangan, Embung Ringin Jenggot sebenarnya telah memiliki modal sosial sebagai destinasi wisata lokal. Pemandangan alam yang masih asri, hamparan perairan yang luas, serta suasana pedesaan yang tenang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Kegiatan pemancingan terbuka yang rutin digelar setiap tahun juga terbukti mampu mendatangkan masyarakat dari berbagai wilayah sekitar.
Namun, nilai ekonomi yang dapat dihasilkan tidak berhenti pada sektor wisata semata. Jika pengembangan dilakukan secara terencana, kawasan embung berpotensi menciptakan ruang usaha baru bagi warga. Mulai dari warung kuliner, penyewaan peralatan memancing, area parkir yang dikelola masyarakat, hingga penjualan produk UMKM dan kerajinan lokal.
Potensi tersebut menjadi penting mengingat sektor wisata memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian desa. Setiap kunjungan wisatawan akan memunculkan kebutuhan konsumsi, transportasi, hingga jasa pendukung lainnya yang dapat menjadi sumber pendapatan bagi warga sekitar.
Selain kekayaan alam, Embung Ringin Jenggot juga memiliki nilai budaya yang dapat menjadi daya tarik tambahan. Cerita rakyat mengenai sosok Mbah Jenggot yang diyakini masyarakat memiliki kemampuan mengendalikan sumber mata air di kawasan tersebut menjadi narasi lokal yang dapat dikemas sebagai wisata budaya dan edukasi. Keberadaan cerita rakyat semacam ini sering kali menjadi pembeda yang tidak dimiliki destinasi wisata lain.
![]() |
Camat Plandaan Lia Aprilianna Isna Sari menegaskan bahwa pengembangan embung harus mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus sosial bagi masyarakat. Menurutnya, potensi yang ada perlu dijaga dan dikembangkan agar tidak hanya menjadi lokasi rekreasi, tetapi juga menjadi sumber kesejahteraan warga.
Program Pandora sendiri menjadi salah satu upaya pemerintah kecamatan untuk mengangkat potensi-potensi lokal yang selama ini belum tergarap maksimal. Jika pengembangan Embung Ringin Jenggot berhasil dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, kawasan tersebut berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah utara Jombang.
Lebih dari sekadar destinasi wisata, Embung Ringin Jenggot kini diproyeksikan sebagai aset desa yang mampu membuka lapangan usaha, meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat, serta mendongkrak Pendapatan Asli Desa (PADes). Tantangan berikutnya adalah memastikan pengelolaan dilakukan secara profesional dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, sehingga manfaat ekonomi yang tercipta benar-benar kembali kepada warga Desa Plabuhan. (brown)
Jurnalis: RonnyBrown
Redaksi: PopularitasNews.com

