POPULARITAS NEWS - Di sebuah sudut jalan, seorang pria dengan gangguan jiwa duduk termenung tanpa tujuan. Rambutnya kusut, pakaiannya lusuh, dan tak seorang pun mengetahui dari mana ia berasal. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya bagian dari pemandangan yang kerap terabaikan. Namun bagi seorang polisi bernama Purnomo, lelaki itu adalah manusia yang harus diselamatkan.
Purnomo tidak sedang menjalankan operasi kepolisian. Tidak ada laporan masyarakat yang harus ditindaklanjuti. Tidak ada target pengungkapan kasus yang harus dikejar. Ia hanya mengikuti panggilan hati.
Dengan biaya pribadi, ia membawa orang-orang dengan gangguan jiwa yang ditemuinya di jalanan untuk dirawat. Mereka dimandikan, diberi pakaian layak, diberi makan, bahkan diupayakan untuk dipertemukan kembali dengan keluarga yang selama bertahun-tahun kehilangan kabar. Apa yang dilakukan Purnomo bukan pekerjaan yang tercantum dalam standar operasional kepolisian. Namun justru dari ruang itulah lahir makna pengabdian yang sesungguhnya.
Kisah Purnomo kemudian menyebar melalui media sosial. Video dan cerita tentang kepeduliannya mengundang perhatian publik. Banyak yang tersentuh melihat sosok polisi yang tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penyembuh luka sosial yang selama ini luput dari perhatian.
Di tengah derasnya arus informasi yang sering menampilkan sisi keras kehidupan kepolisian, kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam terdapat manusia dengan nurani yang bekerja melampaui batas kewajibannya.
Namun Purnomo sesungguhnya bukan cerita tentang satu orang. Ia adalah representasi dari wajah lain kepolisian yang jarang mendapat ruang dalam pemberitaan.
Di berbagai daerah, terdapat anggota kepolisian yang diam-diam menjalankan peran sosial di tengah masyarakat. Ada yang menjadi penggerak pendidikan bagi anak-anak kurang mampu. Ada yang menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu warga miskin. Ada yang mendampingi lansia terlantar, membantu korban bencana, hingga menjadi penghubung bagi keluarga yang terpisah karena berbagai persoalan sosial.
Mereka bekerja tanpa sorotan kamera dan tanpa menunggu penghargaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan antara polisi dan masyarakat tidak selalu dibangun melalui tindakan represif ataupun penegakan hukum semata. Dalam banyak kasus, kehadiran polisi justru dirasakan paling nyata ketika mereka hadir sebagai bagian dari solusi atas persoalan kemanusiaan.
Sosiolog melihat bahwa kepercayaan publik terhadap institusi negara tidak hanya dibangun melalui keberhasilan menegakkan aturan, tetapi juga melalui kemampuan aparat menunjukkan empati. Masyarakat cenderung lebih mudah mempercayai institusi yang hadir dan memahami persoalan mereka secara langsung.
Di titik inilah sosok seperti Purnomo menemukan relevansinya.
Ia tidak sedang mengubah sistem besar seorang diri. Namun tindakannya memperlihatkan bahwa pendekatan kemanusiaan mampu menciptakan kedekatan yang sering kali gagal dibangun melalui kewenangan formal. Ketika seorang polisi rela mengeluarkan uang pribadinya untuk merawat orang terlantar, masyarakat melihat sesuatu yang lebih dari sekadar jabatan. Mereka melihat kepedulian.
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi institusi kepolisian saat ini, kisah-kisah semacam ini menjadi harapan bahwa wajah humanis aparat negara masih tumbuh dan hidup di tengah masyarakat. Bahwa masih ada polisi yang memilih mendengar sebelum menghakimi, membantu sebelum memerintah, dan merangkul sebelum bertindak.
Mungkin jumlah mereka tidak sedikit. Hanya saja, sebagian besar bekerja dalam diam.
Karena bagi polisi-polisi sosial seperti Purnomo, pengabdian bukanlah tentang menjadi viral atau dikenal banyak orang. Pengabdian adalah tentang memastikan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar ditinggalkan.
Dan ketika seorang polisi mampu menghadirkan rasa aman sekaligus rasa peduli, saat itulah makna "Polisi Sahabat Masyarakat" tidak lagi sekadar slogan. Ia menjelma menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh warga, dari jalanan kota hingga pelosok desa.
Di sana, kepercayaan tumbuh bukan karena kewenangan. Melainkan karena kemanusiaan.
Jurnalis: Supriyanto
Edito: RonnyBrown
Redaksi: PopularitasNews.com
