![]() |
| Wawancara Eksklusif dr. Puji Umbaran di Lobby Ruang Kerja, Jumat (24/7/2026) | Foto: Brown - Popularitas News |
JOMBANG, POPULARITAS NEWS – Peningkatan temuan kasus HIV di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur menjadi alarm yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sidoarjo dan Mojokerto menjadi contoh bagaimana deteksi dini melalui skrining yang lebih luas mampu mengungkap kondisi riil di lapangan. Sementara itu, di Kabupaten Jombang, data resmi perkembangan kasus HIV sepanjang 2026 hingga kini masih belum dipublikasikan.
Berdasarkan data Satu Data Kabupaten Jombang, jumlah Orang dengan HIV (ODHIV) yang tercatat dalam lima tahun terakhir menunjukkan fluktuasi. Pada 2021 terdapat 152 kasus, meningkat menjadi 243 kasus pada 2022, kemudian mencapai puncaknya pada 2023 dengan 332 kasus. Angka tersebut menurun menjadi 253 kasus pada 2024 dan kembali turun menjadi 227 kasus pada 2025.
Meski demikian, belum adanya data resmi 2026 bukan berarti ancaman HIV telah mereda. Justru, sejumlah tenaga kesehatan mengingatkan agar masyarakat maupun pemerintah daerah tidak terlena hanya karena angka terbaru belum tersedia.
Kondisi tersebut kontras dengan sejumlah daerah lain di Jawa Timur yang telah mempublikasikan perkembangan kasusnya. Kabupaten Sidoarjo, misalnya, melaporkan sedikitnya 522 kasus HIV sepanjang 2026. Bahkan, laporan terbaru kembali mencatat 53 kasus baru hasil pemeriksaan lanjutan.
Sementara itu, Kabupaten Mojokerto juga menunjukkan tren yang perlu mendapat perhatian. Hingga April 2026, Dinas Kesehatan setempat mencatat 1.624 kasus kumulatif, melampaui estimasi daerah sebanyak 1.587 kasus. Dalam periode Januari hingga April 2026 saja ditemukan 118 kasus baru, terdiri atas 115 kasus hasil skrining Dinas Kesehatan dan tiga kasus tambahan dari kegiatan penertiban yang dilakukan Satpol PP. Sebelumnya, Mojokerto juga mencatat 305 kasus pada 2023, meningkat menjadi 314 kasus pada 2024, kemudian turun menjadi 279 kasus pada 2025.
Data dari dua daerah tersebut memperlihatkan bahwa semakin luas skrining dilakukan, semakin banyak kasus yang berhasil ditemukan. Temuan yang meningkat tidak selalu mencerminkan lonjakan penularan, tetapi juga dapat menunjukkan bahwa lebih banyak orang berhasil didiagnosis lebih awal sehingga bisa segera memperoleh pengobatan.
Direktur RSUD Jombang, dr. Puji Umbaran, mengaku belum mengetahui angka pasti perkembangan kasus HIV di Kabupaten Jombang sepanjang 2026 karena data resmi berada di Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Namun demikian, ia meyakini potensi kasus yang belum teridentifikasi masih perlu menjadi perhatian serius.
Menurutnya, HIV merupakan fenomena yang kerap diibaratkan sebagai gunung es. Kasus yang tercatat dan terlaporkan hanyalah bagian kecil yang tampak di permukaan, sedangkan masih dimungkinkan ada penderita yang belum mengetahui status kesehatannya karena belum pernah menjalani pemeriksaan.
"Kalau skrining dilakukan lebih masif, tentu kasus yang ditemukan juga akan lebih banyak. Itu bukan berarti penularannya tiba-tiba meningkat, tetapi karena semakin banyak orang yang berhasil diidentifikasi dan bisa segera mendapatkan pengobatan," ujarnya.
Puji menjelaskan, hingga saat ini skrining HIV di masyarakat masih didominasi pemeriksaan yang bersifat sukarela maupun berdasarkan indikasi medis. Artinya, sebagian masyarakat baru menjalani tes ketika memiliki faktor risiko tertentu, mendapat rekomendasi tenaga kesehatan, atau datang atas kesadaran sendiri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, HIV memiliki fase tanpa gejala yang dapat berlangsung bertahun-tahun. Pada periode tersebut, seseorang dapat terlihat sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa sehingga tidak sedikit yang tidak menyadari dirinya telah terinfeksi. Kondisi inilah yang membuat deteksi dini menjadi sangat penting dalam upaya memutus mata rantai penularan.
Melihat perkembangan di sejumlah daerah, Jombang juga dihadapkan pada tantangan yang sama, yakni memperluas akses skrining sekaligus meningkatkan edukasi kepada masyarakat. Sebab, keberhasilan pengendalian HIV tidak hanya diukur dari sedikitnya angka kasus yang tercatat, tetapi juga dari kemampuan sistem kesehatan menemukan kasus lebih awal sebelum penderita mengalami komplikasi dan tanpa disadari menularkan virus kepada orang lain.
Dengan belum dipublikasikannya data resmi HIV Kabupaten Jombang tahun 2026, publik tentu menantikan gambaran terbaru mengenai kondisi di daerah ini. Data tersebut akan menjadi pijakan penting untuk mengevaluasi efektivitas program pencegahan, memperkuat deteksi dini, serta menentukan arah kebijakan kesehatan ke depan.
Satu hal yang pasti, tren di Jawa Timur menunjukkan bahwa HIV masih menjadi tantangan nyata. Karena itu, memperkuat skrining, menghilangkan stigma terhadap Orang Dengan HIV (ODHIV), serta memperluas edukasi kesehatan reproduksi menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda. Sebab dalam penanganan HIV, semakin cepat kasus ditemukan, semakin besar peluang pasien menjalani hidup sehat sekaligus menekan risiko penularan di tengah masyarakat. (Red)
Penulis: RonnyBrown
Redaksi:PopularitasNews.com
Copyright © POPULARITAS NEWS 2026
