Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapolri Ziarah ke Makam Gus Dur, Meneguhkan Semangat Pluralisme di Hari Bhayangkara ke-80

Sunday, June 21, 2026 | June 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-21T16:23:31Z

 


JOMBANG, POPULARITAS NEWS – Kunjungan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke kompleks makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Sabtu (20/6/2026), menjadi salah satu agenda penting dalam rangkaian peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Lebih dari sekadar tradisi ziarah, kunjungan tersebut sarat makna karena dilakukan di makam tokoh nasional yang dikenal luas sebagai simbol pluralisme, toleransi, dan persatuan bangsa.


Setibanya di kawasan Pesantren Tebuireng, Kapolri disambut langsung oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Dalam prosesi penyambutan, Jenderal Listyo Sigit menerima pengalungan surban sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol kedekatan institusi Polri dengan kalangan pesantren dan tokoh agama.


Mengenakan peci hitam, Kapolri kemudian menuju kompleks makam keluarga besar pendiri Nahdlatul Ulama. Di hadapan pusara Gus Dur, Kapolri memanjatkan doa dan menaburkan bunga sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang telah memberikan kontribusi besar bagi perjalanan demokrasi Indonesia.


Pemilihan makam Gus Dur sebagai salah satu tujuan ziarah dalam momentum Hari Bhayangkara dinilai memiliki pesan yang kuat. Gus Dur bukan hanya dikenang sebagai Presiden ke-4 RI, tetapi juga sebagai tokoh bangsa yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, keberagaman, dan kesetaraan bagi seluruh warga negara tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun golongan.


Semasa memimpin Indonesia pada periode 1999 hingga 2001, Gus Dur mendorong berbagai langkah reformasi yang memperkuat demokrasi dan supremasi sipil. Salah satu warisan penting yang hingga kini menjadi tonggak perjalanan bangsa adalah pengukuhan pemisahan antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) melalui TAP MPR Nomor VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri serta TAP MPR Nomor VII Tahun 2000 tentang Peran TNI dan Polri.


Kebijakan tersebut menjadi bagian dari proses reformasi kelembagaan yang menempatkan Polri sebagai institusi sipil yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat secara profesional. Karena itu, ziarah Kapolri ke makam Gus Dur juga dapat dimaknai sebagai penghormatan terhadap sejarah panjang transformasi Polri menuju institusi yang modern, profesional, dan dekat dengan masyarakat.


Di sisi lain, sosok Gus Dur hingga kini tetap dikenang sebagai “Bapak Pluralisme” Indonesia. Gagasan dan perjuangannya dalam merawat keberagaman menjadi warisan yang terus relevan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk. Gus Dur berulang kali menegaskan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang harus dijaga untuk memperkokoh persatuan bangsa.


Melalui ziarah tersebut, Polri tidak hanya mengenang jasa seorang mantan presiden, tetapi juga meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan yang diperjuangkan Gus Dur. Di tengah berbagai tantangan sosial yang terus berkembang, semangat toleransi, persaudaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi fondasi penting dalam menjaga keamanan serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Momentum menjelang Hari Bhayangkara ke-80 itu pun menjadi pengingat bahwa tugas menjaga keamanan tidak dapat dipisahkan dari upaya merawat harmoni sosial. Nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur tentang kemanusiaan dan pluralisme menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa, termasuk Polri, dalam mengawal Indonesia yang damai, inklusif, dan bersatu di tengah keberagaman.



Jurnalis: RonnyBrown

Redaksi: PopularitasNews.com

×
Berita Terbaru Update