JOMBANG, POPULARITAS NEWS — Jombang bukan sekadar wilayah geografis. Di tanah ini, tradisi pesantren, ulama, dan Nahdlatul Ulama (NU) tumbuh dalam perjalanan panjang yang membentuk salah satu pusat peradaban santri di Jawa.
Dari rahim sejarah itulah KH. Muhtazuddin, S.H., atau yang akrab disapa Kaji Muh, menapaki jalan pengabdian melalui jalur pendidikan, literasi, pesantren, dan gerakan kultural.
Kaji Muh merupakan putra dari keluarga yang memiliki akar kuat dalam tradisi pesantren. Ia adalah adik kandung mendiang Drs. H. Choirul Anam (Cak Anam), tokoh senior NU, penulis sejarah NU, sekaligus jurnalis yang dikenal luas karena kiprahnya dalam mendokumentasikan perjalanan Nahdlatul Ulama.
Di belakang garis keluarganya terdapat sosok KH. M. Manshur, pengasuh generasi ketiga Pondok Pesantren Midanut Ta'lim Mayangan, yang menjadi salah satu figur penting dalam mata rantai keluarga dan tradisi keilmuan yang diwarisi Kaji Muh.
Dari Trah Mayangan, Menyusuri Jejak Raden Patah
Dalam silsilah keluarga yang dinisbatkan kepadanya, garis keturunan KH. M. Manshur ditarik hingga kepada Raden Patah, pendiri sekaligus sultan pertama Kesultanan Demak.
Silsilah tersebut disebut berurutan:
KH. M. Manshur bin Arya Redjo (Sekaru, Gudo, Jombang), bin Arya Kromo, bin Arya Penangsang, bin Pangeran Sekar Seda Lepen, bin Raden Patah, Sultan pertama Kesultanan Demak.
Silsilah itu menempatkan Kaji Muh dalam sebuah narasi genealogis yang panjang—dari tradisi kerajaan Islam Jawa, berkembang ke lingkungan keluarga pesantren, hingga kemudian berakar di tanah Jombang.
Namun bagi Kaji Muh, garis keturunan bukanlah sekadar kebanggaan genealogis. Warisan yang jauh lebih penting adalah nilai yang harus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya: ilmu, keberanian, keteguhan prinsip, dan pengabdian kepada umat.
Dari garis Mayangan itulah karakter perjuangan Kaji Muh menemukan salah satu pijakannya.
Sawiji dan Benteng Pendidikan
Napas perjuangan Kaji Muh kemudian berpusat di Desa Sawiji, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang.
Melalui Yayasan Roudlotus Shofiyyah Litarbiyyatil Banaat, yang namanya didedikasikan sebagai bentuk tabarruk kepada ibundanya, Nyai Hj. Shofiyah binti KH. M. Manshur, ia membangun ruang pengabdian melalui pendidikan.
Di bawah kiprahnya, lembaga pendidikan seperti SD Islam Terpadu Taswirul Afkar menjadi bagian dari ikhtiar untuk mempertemukan pendidikan modern dengan akar tradisi Islam pesantren.
Bagi Kaji Muh, modernitas tidak semestinya membuat generasi muda kehilangan akar. Pendidikan harus mampu melahirkan generasi yang menguasai pengetahuan sekaligus memahami tradisi keislaman, Aswaja, dan khazanah literasi pesantren.
JIK-NAH: Dari Kegelisahan Menjadi Gerakan Kultural
Perjalanan Kaji Muh kemudian memasuki ruang yang lebih luas ketika ia bersama sejumlah tokoh dan elemen masyarakat mendirikan Jombang Ibu Kota Nahdliyin (JIK-NAH).
Kaji Muh kemudian dipercaya sebagai Ketua Umum sekaligus salah satu pendiri JIK-NAH.
Gerakan tersebut lahir dari kegelisahan sekaligus keyakinan bahwa Jombang memiliki posisi historis yang tidak biasa dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.
Bagi Kaji Muh, Jombang tidak boleh sekadar menjadi nama kabupaten yang kebetulan memiliki banyak pesantren. Jombang adalah ruang sejarah tempat tradisi keilmuan, ulama, dan peradaban santri berkembang serta memberi kontribusi besar terhadap perjalanan NU.
“Jombang bukan sekadar wilayah geografis, melainkan rahim peradaban santri yang melahirkan tokoh-tokoh besar NU, seperti KH. Hasyim Asy'ari.”
Dari gagasan itulah JIK-NAH bergerak sebagai wadah kultural. Kaji Muh mendorong kesadaran bahwa kebesaran NU harus senantiasa dibarengi dengan kemampuan menjaga khittah, kemandirian, kewibawaan, transparansi, serta keberpihakan kepada kepentingan umat.
JIK-NAH menjadi ruang bagi masyarakat sipil untuk ikut merawat NU dari luar sekat-sekat struktural organisasi.
Mewarisi Pena, Merawat Literasi
Pengaruh Cak Anam sebagai kakak kandungnya juga tidak dapat dilepaskan dari perjalanan intelektual Kaji Muh.
Jika sang kakak menorehkan sejarah melalui tulisan dan jurnalistik, Kaji Muh mengembangkan khidmahnya melalui pendidikan, komunikasi publik, literasi, serta jejaring sosial-keagamaan.
Ia aktif membangun komunikasi lintas media, termasuk melalui Forum Lintas Media (FLM), sembari menjaga hubungan dengan berbagai kalangan pesantren dan ulama.
Sowan kepada para kiai menjadi bagian dari cara Kaji Muh merawat hubungan antargenerasi. Salah satunya ketika ia menyerahkan karya literasi kepada KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) di Tebuireng.
![]() |
| Penyerahkan karya literasi kepada KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) di Tebuireng Bersama Jajaran Pengurus JIKNAH | Foto: Doc. JIKNAH/POPULARITAS NEWS |
Baginya, literasi bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis. Literasi adalah cara menjaga ingatan agar sejarah tidak mudah terputus oleh perubahan zaman.
Khidmah di Tengah Muktamar
Ketika Jombang menjadi bagian dari momentum besar Muktamar NU, Kaji Muh kembali memilih jalan pengabdian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Melalui JIK-NAH, ia ikut menggerakkan Posko Informasi Khusus di kawasan Pasar Legi Jombang untuk membantu para muktamirin yang datang dari berbagai penjuru Nusantara.
Posko tersebut menjadi gambaran lain dari karakter gerakannya: tidak hanya berbicara tentang gagasan, tetapi hadir dalam bentuk pelayanan konkret kepada masyarakat.
Dari Silsilah Menuju Khidmah
Jejak Kaji Muh pada akhirnya bukan semata-mata cerita mengenai panjangnya silsilah keluarga.
Nama-nama besar dalam garis leluhur tidak akan memiliki arti jika berhenti sebagai kebanggaan genealogis.
Bagi Kaji Muh, warisan sejati justru terletak pada kemampuan generasi penerus untuk menerjemahkan nilai leluhur ke dalam pengabdian yang relevan dengan zamannya.
Dari Raden Patah, sebagaimana dinisbatkan dalam silsilah keluarganya, menuju Pangeran Sekar Seda Lepen, Arya Penangsang, Arya Kromo, Arya Redjo, hingga KH. M. Manshur di Mayangan, terbentang sebuah narasi panjang tentang perjalanan keluarga yang kemudian berakar di Jombang.
Dan dari akar itulah Kaji Muh memilih jalannya sendiri.
Ia tidak menjadikan trah sebagai tujuan, melainkan sebagai tanggung jawab.
Sebagai Ketua Umum sekaligus pendiri Jombang Ibu Kota Nahdliyin (JIK-NAH), ia membawa satu pesan yang terus ia rawat: bahwa Jombang memiliki sejarah yang besar, dan sejarah itu harus dijaga bukan hanya dengan mengingat masa lalu, tetapi dengan berbuat untuk masa depan.
Dari Sawiji, Jogoroto, Kaji Muh terus menapaki jalan kulturalnya—merawat pendidikan, menjaga literasi, membangun silaturahmi pesantren, dan menyuarakan kepentingan Nahdliyin.
Sebab bagi seorang santri, warisan leluhur bukanlah mahkota untuk dipamerkan, melainkan amanah untuk diteruskan. (Red)
Penulis: RonnyBrown
Redaksi: PopularitasNews.com
Copyright © POPULARITAS NEWS 2026

