Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Asal-Usul Jombang dan Legenda Kebo Kicak: Ketika Santri TPQ Nurul Iman Menjadi Penjaga Ingatan Masyarakat

Sunday, August 16, 2026 | August 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-15T17:43:42Z

Santri TPQ Nurul Iman saat mementaskan drama kolosal cerita rakyat Kebo Kicak, kisah yang lekat dengan legenda asal-usul Jombang, dalam rangkaian Bangle Festival 2026 di Dusun Bangle, Desa Dapur Kejambon, Kecamatan Jombang, Sabtu (15/8/2026) | Foto: Doc. Brown/Popularitas News

JOMBANG, POPULARITAS NEWS
– Di tengah gemerlap lampu panggung Bangle Festival 2026, masa lalu Jombang seolah kembali bernapas, rek.


Bukan melalui buku sejarah, bukan pula lewat cerita dari generasi tua, melainkan melalui gerak, dialog, dan ekspresi para santri TPQ Nurul Iman. Di atas panggung, mereka memainkan legenda Kebo Kicak dengan penuh penghayatan, seakan membuka kembali lembar paling tua dari ingatan tanah ini, ketika Jombang belum sekadar nama, melainkan kisah yang lahir dari pertarungan, darah, dan makna yang diwariskan dari lisan ke lisan.


Dalam narasi yang mereka hidupkan, Kebo Kicak bukan sekadar tokoh, melainkan sosok yang berdiri di batas antara manusia dan mitos, antara sejarah dan keyakinan rakyat. Bersamanya hadir Surontanu, lawan sekaligus cermin dalam kisah yang oleh masyarakat lama dipercaya menjadi denyut awal terbentuknya Jombang. Dari benturan keduanya, dari ijo dan abang yang saling berkelindan dalam tafsir rakyat, lahirlah penanda ruang yang kelak disebut Jombang, sebuah nama yang tumbuh dari luka, pertemuan, dan ingatan kolektif.


Setiap adegan menjadi seperti potongan ingatan yang tidak pernah benar-benar padam. Sosok Kebo Kicak dan Surontanu tidak lagi hanya menjadi nama dalam cerita tutur, tetapi menjelma pengalaman yang bisa disaksikan, dirasakan, bahkan diresapi ulang oleh generasi hari ini, seakan-akan “iki lho asal-usule Jombang” yang kembali dihidupkan di hadapan mata.


Penampilan para santri itu sekaligus menunjukkan bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti menyimpan cerita di balik lembaran buku. Budaya bisa tetap hidup ketika generasi muda mau mengenalnya, memerankannya, lalu menceritakannya kembali, yo rek, dengan cara mereka sendiri.


Kisah Kebo Kicak sendiri berkembang sebagai salah satu legenda yang dikaitkan masyarakat dengan asal-usul Jombang. Dalam salah satu versi cerita, pertarungan Kebo Kicak dan Surontanu dikaitkan dengan dua warna, ijo dan abang, yang kemudian dipercaya menjadi bagian dari penanda lahirnya nama Jombang, sebuah simbol tentang pertemuan, perbedaan, dan penyatuan yang membentuk identitas ruang.


Terlepas dari beragam versi yang berkembang, legenda tersebut memiliki tempat tersendiri dalam ingatan budaya masyarakat Jombang, sing wis turun-temurun dijaga, seperti api kecil yang tak boleh padam meski zaman terus berganti.


Dan malam itu, para santri TPQ Nurul Iman seperti mengambil tugas yang sederhana tetapi penting: menjaga agar ingatan itu tidak ikut hilang ditelan zaman, rek.


Di tangan mereka, Kebo Kicak bukan sekadar cerita masa lalu. Ia menjadi pertunjukan, menjadi pembelajaran, sekaligus menjadi cara generasi muda mengenali akar tempat mereka berpijak, bahwa Jombang tidak hanya lahir dari peta, tetapi juga dari kisah yang terus diceritakan ulang, opo maneh Jombang sing kebanggaan bareng-bareng.


Bangle Festival 2026 akhirnya bukan hanya menghadirkan panggung hiburan. Festival tersebut menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini, ketika santri tampil sebagai penjaga cerita, penjaga budaya, dan penjaga ingatan tentang Jombang.


Sebab, sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh jalan, gedung, dan pemerintahan. Jombang juga tumbuh dari cerita yang diwariskan, dari legenda Kebo Kicak yang terus ditafsirkan ulang, dari budaya yang dirawat, dan dari generasi muda yang bersedia menceritakannya kembali, rek. (Red) 


Penulis: RonnyBrown

Redaksi: PopularitasNews.com

Copyright © POPULARITAS NEWS

×
Berita Terbaru Update