JOMBANG, POPULARITAS NEWS - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Pegunungan Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), memasuki tahap akhir setelah api utama berhasil dipadamkan. Meski demikian, tim gabungan masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara maupun titik asap yang berpotensi memicu kebakaran kembali.
Karhutla yang berlangsung sejak 3 Agustus hingga 14 Agustus 2026 tersebut tercatat berlangsung selama 12 hari operasi pemadaman. Luas kawasan TNBTS yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 1.120,3 hektare.
Dalam penanganan tersebut, Kabupaten Jombang turut mengirimkan personel BPBD untuk memperkuat tim gabungan di lapangan. Dukungan personel BPBD Jombang berlangsung selama lima hari, terutama dalam proses pemadaman dan pencarian titik api di kawasan pegunungan.
Kepala Pelaksana BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz Quintas, S.STP., M.Si., mengatakan keterlibatan Jombang merupakan bentuk solidaritas dan dukungan antardaerah dalam menghadapi bencana.
“Keterlibatan Kabupaten Jombang merupakan bentuk dukungan antardaerah dan sinergi dalam penanganan bencana. Personel BPBD Jombang diterjunkan bersama unsur gabungan untuk mendukung pemadaman dan penanganan titik api,” ujar Wiku, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, tantangan utama dalam penanganan karhutla Pegunungan Bromo berada pada kondisi medan. Tim harus bergerak di kawasan dengan kontur terjal dan akses yang tidak mudah dijangkau. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan teknik, strategi, serta koordinasi yang matang.
“Medannya cukup terjal dan akses menuju beberapa titik api juga sulit. Karena itu, penanganan membutuhkan teknik dan strategi khusus dengan tetap mengutamakan keselamatan personel,” jelasnya.
Memburu Titik Api Kecil
Wiku menjelaskan, pekerjaan tim gabungan tidak berhenti setelah api terlihat padam. Personel harus melakukan penyisiran untuk mencari sumber-sumber titik api kecil yang berpotensi kembali membesar.
Pencarian dilakukan hingga menemukan titik-titik api maupun bara yang tersembunyi di kawasan terdampak. Langkah tersebut menjadi penting karena titik api kecil dapat berkembang kembali apabila tidak segera ditangani.
“Tim melakukan pencarian sampai pada sumber titik-titik api kecil. Ini penting karena titik kecil yang masih menyala atau menyimpan bara dapat kembali membesar apabila tidak segera ditangani,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, komunikasi dan kerja sama menjadi bagian penting dalam operasi. Setiap pergerakan personel harus memperhatikan kondisi medan, arah asap, potensi penyebaran api, serta keselamatan anggota tim.
“Penanganan dilakukan dengan mengedepankan keselamatan personel, koordinasi, komunikasi dan kerja sama tim. Jangan sampai upaya memadamkan api justru menimbulkan risiko bagi petugas,” tegas Wiku.
Api Utama Padam, Penyisiran Berlanjut
Berdasarkan kondisi terakhir pada Jumat (14/8/2026), api utama di kawasan terdampak telah berhasil dipadamkan. Namun, operasi belum sepenuhnya dianggap selesai karena tim gabungan masih melakukan penyisiran dan evaluasi secara ketat.
Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara, titik panas, maupun kepulan asap yang tersisa dan berpotensi menjadi sumber api baru.
Karhutla yang berlangsung selama 12 hari tersebut memberikan gambaran bahwa penanganan kebakaran di kawasan pegunungan membutuhkan kemampuan teknis sekaligus ketahanan personel dalam menghadapi medan yang berat.
Bagi BPBD Jombang, keterlibatan selama lima hari juga menjadi pengalaman penting untuk meningkatkan kapasitas personel dalam menghadapi karhutla, khususnya di wilayah pegunungan.
“Ini menjadi kesempatan bagi personel BPBD Jombang untuk menambah pengalaman dan meningkatkan kapasitas dalam penanganan karhutla, khususnya menghadapi karakter medan pegunungan,” tutur Wiku.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi personel ketika menghadapi situasi serupa di wilayah Kabupaten Jombang maupun ketika mendapatkan tugas dukungan penanganan bencana di daerah lain.
Jombang Tegaskan Komitmen Kolaborasi Bencana
Keikutsertaan BPBD Jombang dalam operasi penanganan karhutla Pegunungan Bromo sekaligus menunjukkan komitmen Pemerintah Kabupaten Jombang untuk memperkuat penanggulangan bencana berbasis kolaborasi.
Menurut Wiku, bencana tidak selalu dapat ditangani sendiri oleh satu daerah. Ketika kapasitas dan sumber daya suatu daerah dibutuhkan di wilayah lain, dukungan antardaerah menjadi bagian penting dalam memperkuat respons kebencanaan.
“Komitmen Kabupaten Jombang dalam penanganan bencana tidak hanya untuk wilayah Jombang. Ketika daerah lain membutuhkan dukungan dan kami memiliki kemampuan untuk membantu, kami siap bersinergi dalam penanganan bencana secara kolaboratif,” pungkasnya.
Penanganan karhutla di Pegunungan Bromo menjadi salah satu contoh penting bahwa pemadaman bukan sekadar memadamkan api yang terlihat. Lebih dari itu, tim harus memastikan sumber api benar-benar terkendali, melakukan penyisiran, mengevaluasi kondisi lapangan, sekaligus menjaga keselamatan seluruh personel yang berada di garis penanganan.
Dengan api utama telah padam, fokus tim gabungan kini bergeser pada memastikan kawasan TNBTS benar-benar aman dari bara dan titik api yang tersisa. Langkah ini menjadi kunci untuk mencegah karhutla kembali membesar setelah operasi pemadaman selama hampir dua pekan. (Red)
Penulis: RonnyBrown
Redaksi: PopularitasNews.com
Copyright © POPULARITAS NEWS2026


