Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gempa M7,7 Guncang NTT, Warga Berhamburan dari Pesisir, Evakuasi Dipicu Peringatan Tsunami

Sunday, August 16, 2026 | August 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-15T20:06:00Z

kerusakan rumah warga di wilayah Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, pascagempa 15 Agustus 2026 | Foto: Doc. Popularitas News/RW

NUSA TENGGARA TIMUR, POPULARITAS NEWS
– Gempa bumi tektonik bermagnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Guncangan kuat membuat warga di sejumlah wilayah panik dan bergegas meninggalkan rumah, terutama masyarakat yang berada di kawasan pesisir.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada pukul 04.58.23 WIB. Episenter berada di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Hasil analisis BMKG kemudian memutakhirkan magnitudo dari informasi awal M7,0 menjadi M7,7.


Guncangan dirasakan kuat di sejumlah wilayah NTT. Getaran juga dilaporkan terasa hingga Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Di wilayah terdampak, sebagian warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.


Kepanikan juga dirasakan Samsul Bahri (43), pekerja galangan kapal di Marapokot, Mbay, Nagekeo. Saat gempa terjadi, Samsul baru saja terbangun setelah alarm telepon genggamnya berbunyi.


Ia kemudian merasakan rumahnya berguncang hebat. Samsul bahkan melihat lantai rumahnya mulai mengalami keretakan sebelum akhirnya memutuskan keluar dan menyelamatkan diri.


“Saya sudah tidak tahu lagi kondisi rumah sekarang. Pokoknya kita lari saja selamatkan diri dulu,” ujar Samsul.


Situasi semakin mencekam setelah BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami menyusul gempa tersebut. Warga yang berada di kawasan pesisir bergegas menuju tempat yang lebih tinggi.


Samsul mengatakan masyarakat di sekitar pantai bergerak menggunakan kendaraan masing-masing. Ia memilih mengikuti warga setempat menuju dataran yang lebih tinggi karena tidak mengetahui secara pasti lokasi evakuasi.


“Kami lagi mengungsi semua ini, lari dari pinggir pantai ke arah gunung. Yang penting sudah jauh dari pesisir dulu,” katanya.


Dalam perjalanan, Samsul melihat sejumlah tiang listrik roboh serta bagian tembok rumah warga yang runtuh.


Peringatan dini tsunami tersebut kemudian dinyatakan berakhir setelah BMKG melakukan pemantauan muka laut. BMKG mencatat sejumlah kenaikan muka air laut di beberapa wilayah, termasuk Maurole-Ende sebesar 0,94 meter, Pelabuhan Kewapante-Sikka 0,38 meter, Labuan Bajo 0,36 meter, dan Flores Timur 0,25 meter.


BMKG menyatakan potensi tsunami telah berakhir pada pukul 07.31 WIB. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan tidak kembali memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman.


Dampak gempa juga mendorong ribuan warga melakukan evakuasi mandiri. BNPB sebelumnya mencatat sekitar 2.000 warga di Kabupaten Nagekeo mengungsi atau melakukan evakuasi mandiri setelah merasakan guncangan kuat dan menerima peringatan dini tsunami.


Penanganan dilakukan secara terpadu oleh BPBD bersama TNI, Polri, Basarnas, BMKG dan unsur terkait. BNPB juga mengerahkan dukungan penanganan darurat, termasuk bantuan logistik dan operasional udara untuk menjangkau wilayah yang menghadapi kendala akses.


Data korban dan kerusakan terus mengalami pemutakhiran seiring proses pendataan di lapangan. Pada konferensi pers awal, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyampaikan laporan sementara lima orang meninggal dunia, terdiri atas dua korban di Sikka dan tiga korban di Manggarai.


Namun, angka korban merupakan data dinamis dan terus diperbarui oleh otoritas penanggulangan bencana. Karena itu, setiap perkembangan jumlah korban harus merujuk pada laporan terbaru BNPB dan pemerintah daerah.


Gempa utama juga diikuti aktivitas gempa susulan. BNPB kemudian melaporkan adanya puluhan gempa susulan setelah gempa utama M7,7 mengguncang Flores.


Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat di wilayah rawan gempa dan pesisir perlu segera mengikuti arahan evakuasi ketika terjadi guncangan kuat disertai peringatan tsunami.


Di tengah kepanikan, keselamatan menjadi prioritas. Warga diminta menjauh dari garis pantai, menuju tempat yang lebih tinggi, serta hanya kembali ke rumah setelah kondisi dinyatakan aman oleh pihak berwenang. (Red) 



Penulis: RonnyBrown

Redaksi: PopularitasNews.com

Copyright © POPULARITAS NEWS 2026 

×
Berita Terbaru Update