![]() |
| SPPG Surabaya - Sukodadi Kabupaten Lamongan terlihat sepi pada Sabtu malam (26/9/2026) | Doc. Foto: Istimewa |
LAMONGAN, POPULARITAS NEWS – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mestinya bicara soal satu hal penting: makanan yang aman dan bergizi sampai ke meja anak-anak. Tapi, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Surabayan-Sukodadi, Kabupaten Lamongan, justru diterpa polemik.
Operasional SPPG di Desa Surabayan itu dihentikan di lokasi tersebut mulai Senin, 28 September 2026. Sejumlah peralatan dapur bahkan sudah diangkut sejak Jumat (25/9/2026) malam hingga Sabtu dini hari.
Pemilik tempat, Ismawan, menyebut keputusan tersebut bukan muncul tiba-tiba. Ada persoalan kontrak yang sudah lebih dulu menggantung.
Menurut Ismawan, perjanjian kerja sama penggunaan bangunan sebagai dapur SPPG telah berakhir pada 15 Juli 2026. Setelah itu, dia mengaku belum ada pembicaraan maupun kontrak baru dengan pihak mitra.
Karena belum ada kesepakatan baru, Ismawan kemudian melayangkan surat kepada Kepala SPPG Surabayan-Sukodadi. Dalam surat tersebut, penggunaan bangunan untuk kegiatan SPPG diminta dihentikan mulai 28 September 2026.
Surat itu juga ditembuskan kepada KPPG Jawa Timur, Korwil Lamongan, dan Danramil Sukodadi.
Namun, urusan kontrak ternyata bukan satu-satunya persoalan yang mencuat.
Ismawan juga mengungkap adanya laporan dari relawan mengenai dugaan tindakan tidak senonoh yang disebut terjadi di lingkungan dapur SPPG. Informasi itu, menurut Ismawan, berasal dari relawan yang mengaku melihat langsung kejadian tersebut.
Persoalan tersebut telah disampaikan kepada pihak yayasan dan pengelola SPPG. Ismawan mengaku meminta adanya tindakan terhadap pihak yang disebut terlibat.
Hamam, selaku mitra SPPG Surabayan menyatakan telah mendengar informasi tersebut dan melakukan klarifikasi. Dari hasil yang dia terima, belum ditemukan bukti kuat untuk memastikan adanya pelanggaran seperti yang dituduhkan.
Artinya, dugaan tindakan asusila tersebut belum bisa disebut sebagai fakta yang terbukti. Perlu ada verifikasi dan keterangan dari pihak-pihak yang terlibat.
Di lapangan, kondisi dapur SPPG Surabayan pada Sabtu (26/9/2026) dilaporkan sudah kosong. Peralatan masak yang sebelumnya digunakan untuk menyiapkan makanan MBG telah dipindahkan.
Persoalan lain juga ikut menyeruak, mulai dari isu tenaga kerja hingga laporan mengenai minyak. Namun, pihak mitra menyebut persoalan minyak sebagai miskomunikasi setelah dilakukan klarifikasi kepada staf.
Jadi, polemik SPPG Surabayan bukan sekadar cerita soal “dapur MBG ditutup”.
Ada kontrak penggunaan tempat yang disebut telah kedaluwarsa, belum adanya kesepakatan baru, persoalan internal, serta dugaan pelanggaran perilaku yang sampai sekarang masih membutuhkan pembuktian.
SPPG itu selama ini menjadi bagian dari rantai penyediaan makanan MBG bagi para siswa. Ketika dapurnya berhenti, publik tentu perlu tahu: ke mana makanan para penerima manfaat dialihkan dan bagaimana jaminan layanan MBG tetap berjalan?
Sebab jangan sampai urusan dapur berantakan, sementara anak-anak yang berada di ujung rantai layanan justru ikut kena imbasnya.(###)
Penulis: Brown
Redaksi: POPULARITAS NEWS
© Copyright 2026
