![]() |
| Ketua DPD GMNI Jatim, Kelvi Arisudin, memberikan sambutan berkobar di hadapan kader DPC GMNI Jombang, Jumat (16/10/2026) | Doc. Foto: R. Wijaya / POPULARITAS NEWS |
JOMBANG, POPULARITAS NEWS – Ketua DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Jawa Timur, Kelvin Arisudin, mengobarkan semangat kader untuk menjaga independensi organisasi sekaligus memahami sejarah perjuangan GMNI. Ia mengingatkan, identitas organisasi tidak boleh tercerabut dari akar Marhaenisme, tetapi juga tidak boleh terjebak dalam pemahaman sejarah yang keliru.
Pesan tersebut disampaikan Kelvin saat memberikan sambutan dalam Konferensi Cabang (Konfercab) XIII DPC GMNI Jombang di Aula Bung Tomo, Kantor Pemerintah Kabupaten Jombang, Jumat (16/10/2026) sore.
Di hadapan kader dan peserta konfercab, Kelvin menekankan pentingnya memahami perjalanan historis GMNI, termasuk hubungan organisasi mahasiswa nasionalis tersebut dengan Partai Nasional Indonesia (PNI). Menurutnya, pemahaman sejarah menjadi bekal penting agar kader tidak mudah terpengaruh oleh anggapan yang keliru mengenai identitas dan arah perjuangan organisasi.
Ia juga menyinggung upaya penguatan literasi sejarah melalui penerbitan tulisan di majalah organisasi. Sejumlah edisi, menurut penuturannya, mengulas sejarah dan asal-usul GMNI agar kader di tingkat komisariat memahami perjalanan organisasi secara lebih utuh.
Hubungan GMNI dengan PNI merupakan bagian penting dalam sejarah gerakan mahasiswa nasionalis di Indonesia. GMNI berdiri pada 23 Maret 1954 melalui fusi tiga organisasi mahasiswa berhaluan Marhaenisme. Dalam perkembangannya, hubungan GMNI dengan PNI semakin erat dan GMNI tercatat sebagai organisasi yang seazas dengan partai tersebut.
Namun, kedekatan historis dan ideologis itu perlu dibedakan dari status independensi organisasi. Catatan sejarah menunjukkan independensi GMNI kembali diteguhkan melalui Kongres VI di Jakarta pada 1976 dan Kongres VII di Medan pada 1979.
Karena itu, pemahaman mengenai hubungan GMNI dan PNI tidak cukup hanya merujuk pada satu tahun atau satu peristiwa. Kronologi hubungan keduanya perlu dibaca secara utuh berdasarkan dokumen dan catatan sejarah organisasi.
Bagi kader GMNI, memahami sejarah bukan sekadar menghafal tanggal berdirinya organisasi atau nama tokoh-tokoh pendahulu. Lebih dari itu, sejarah menjadi pijakan untuk menjaga identitas perjuangan, membangun kesadaran ideologis, dan memastikan gerakan mahasiswa tetap berpihak pada kepentingan rakyat.
Semangat tersebut sejalan dengan tema Konfercab XIII DPC GMNI Jombang, yakni “Samenwerking, Menembus Batas, Gotong Royong sebagai Jiwa Gerakan GMNI Jombang di Era Disrupsi.”
Kelvin menekankan pentingnya gotong royong sebagai landasan gerakan. Perjuangan organisasi, menurutnya, tidak dapat dibangun melalui kerja individual, melainkan membutuhkan kolaborasi dan kekuatan kolektif dari tingkat komisariat, cabang, hingga struktur organisasi yang lebih tinggi.
Ia mengaitkan nilai gotong royong dengan pemikiran Bung Karno mengenai Pancasila. Dalam pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menjelaskan bahwa Pancasila dapat diperas menjadi Trisila dan kemudian Ekasila, yakni gotong royong.
Nilai tersebut menjadi pengingat bahwa perbedaan pandangan di dalam organisasi semestinya dikelola melalui dialog, argumentasi, dan musyawarah. Kompetisi dalam pemilihan kepemimpinan pun perlu ditempatkan sebagai bagian dari proses demokrasi, bukan alasan untuk merusak persatuan.
Bagi GMNI, semangat gotong royong bukan sekadar slogan dalam tema konfercab. Nilai itu perlu diwujudkan melalui kerja nyata, keberanian menyampaikan gagasan, serta kesediaan berjalan bersama dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Konfercab XIII DPC GMNI Jombang pun menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi kader, merawat ingatan sejarah, dan meneguhkan arah perjuangan organisasi di tengah perubahan zaman.(*)
Penulis: R. Wijaya
Redaksi: POPULARITAS NEWS
© Copyright 2026
