Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wali KoWakilta Cirebon Hadiri Perayaan Hari Santri Nasional dan Gus Award Tingkat Jawa Barat

Thursday, October 22, 2026 | October 22, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-22T15:31:42Z


KOTA CIREBON –POPULARITASNEWS.COM Peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk kembali meneguhkan peran pesantren dan santri dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan sekaligus menjawab tantangan pembangunan di tengah masyarakat. Semangat tersebut mengemuka dalam Perayaan Hari Santri Nasional bersama para tokoh se-Jawa Barat dan penganugerahan Gus Award yang dihadiri Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, di Hotel Aston Cirebon, Kamis (22/10/2026).


Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi bagi para ulama, pengasuh pesantren, dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Barat. Selain mempererat hubungan antartokoh, pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam membangun masyarakat yang berilmu, berkarakter, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial.


Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota menyampaikan penghormatan dan apresiasi kepada para alim ulama, kiai, serta masyayikh yang selama ini berperan dalam membimbing kehidupan masyarakat. Menurutnya, kehadiran para tokoh agama di Kota Cirebon merupakan kehormatan sekaligus pengingat pentingnya menjaga hubungan yang baik antara pemerintah dan kalangan pesantren.


“Atas nama Pemerintah Kota Cirebon beserta seluruh jajaran, kami menyampaikan rasa takzim dan penghormatan setinggi-tingginya kepada para alim ulama, kiai, dan masyayikh. Kami berharap para kiai dan ibu nyai senantiasa diberikan kesehatan serta kekuatan lahir dan batin untuk terus membimbing umat. Nasihat dan keteladanan para ulama sangat berarti agar kehidupan masyarakat, termasuk jalannya pemerintahan, senantiasa berada dalam koridor kemaslahatan,” ujarnya.


Wakil Wali Kota menuturkan, Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober memiliki akar sejarah yang kuat, yakni Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Peristiwa tersebut menjadi bagian penting dari perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan, sekaligus menunjukkan besarnya kontribusi ulama dan santri dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia.


Menurutnya, semangat perjuangan santri perlu terus dihidupkan dan disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Jika dahulu para santri turut berjuang mempertahankan kemerdekaan, saat ini pengabdian tersebut dapat diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam pendidikan, pemberdayaan ekonomi, penguatan ketahanan sosial, serta berbagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


“Santri memiliki bekal keilmuan agama sekaligus nilai kedisiplinan, kemandirian, dan kepedulian sosial. Potensi ini perlu terus dikembangkan agar para santri mampu mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan masyarakat dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan daerah maupun bangsa,” katanya.


Ia menambahkan, pesantren memiliki posisi strategis dalam mendukung pembangunan Kota Cirebon, khususnya dalam pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, Pemerintah Kota Cirebon memandang pesantren dan lembaga keagamaan sebagai mitra penting yang perlu dilibatkan melalui komunikasi, kolaborasi, dan program-program yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.


Sinergi tersebut, lanjutnya, dibutuhkan agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga memperhatikan penguatan moral, pendidikan, serta kehidupan sosial masyarakat. Pemerintah dan kalangan ulama diharapkan dapat terus berjalan beriringan dengan tetap menghormati peran dan tanggung jawab masing-masing.


Pada kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota turut mengapresiasi penyelenggaraan Gus Award sebagai bentuk penghargaan terhadap kiprah dan dedikasi generasi muda pesantren. Ia menilai, penghargaan tersebut dapat menjadi dorongan bagi para figur muda untuk terus mengembangkan kapasitas diri, memperluas pengabdian, dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.


Menurutnya, generasi penerus pesantren perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi, tata kelola modern, dan pemberdayaan ekonomi. Namun, keterbukaan terhadap perkembangan zaman tersebut harus tetap berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai Islam dan tradisi keilmuan pesantren.


“Gus Award bukan sekadar penghargaan, tetapi juga bentuk apresiasi atas dedikasi dan kerja nyata generasi muda pesantren. Kami berharap para penerima penghargaan terus mengembangkan potensi, menjaga nilai-nilai keilmuan yang diwariskan para ulama, dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tuturnya.


Sementara itu, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat, KH. Juhadi Muhammad, S.H., mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang mempertemukan sekitar 1.000 tokoh dari berbagai daerah di Jawa Barat tersebut. Ia menilai, pertemuan ini menjadi kesempatan berharga untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat semangat pengabdian para santri dan ulama.


Menurut Juhadi, kehadiran tokoh-tokoh dari berbagai wilayah, mulai dari Sukabumi hingga Bandung, menunjukkan kuatnya ikatan persaudaraan di lingkungan pesantren. Ia berharap pertemuan tersebut dapat semakin menumbuhkan semangat untuk meneruskan perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama dan para ulama terdahulu yang telah meletakkan dasar pengabdian bagi agama, masyarakat, dan negara.


Ia juga menyoroti kiprah KH. Maman Imanulhaq dalam mengembangkan pesantren dan melahirkan generasi santri. Menurutnya, perkembangan pesantren yang mampu menarik ribuan santri dalam waktu relatif singkat merupakan gambaran bahwa pendidikan berbasis pesantren tetap memiliki tempat penting dan terus berkembang di tengah masyarakat.


Juhadi menegaskan, identitas santri tidak terbatas pada mereka yang sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren. Para kiai dan pengurus organisasi keagamaan pun tetap membawa semangat sebagai santri, yakni terus belajar, menjaga kerendahan hati, serta mengabdikan ilmu untuk kepentingan umat.


“Peringatan Hari Santri ini mengingatkan kita bahwa siapa pun, termasuk para kiai dan pengurus organisasi, pada dasarnya tetaplah santri. Kita harus terus meneladani para pendiri Nahdlatul Ulama dan para pengasuh pesantren yang mengajarkan keikhlasan dalam menyampaikan ilmu. Semangat itulah yang perlu kita jaga agar perjuangan para ulama dan santri terus memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.


(Supriyanto)

×
Berita Terbaru Update