JOMBANG, PopularitasNews.com - Ketua Satgas Percepatan Penyelenggaraan Makanan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Jombang, Agus Purnomo mengawali penjelasannya terkait dugaan keracunan massal di Desa Betek.
Menyikapi puluhan santri yang harus menjalani perawatan medis, Agus menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam atau sekadar menunggu laporan di balik meja.
"Jangan ada yang main-main dengan program nasional ini. Integritas pemberian gizi masyarakat adalah harga mati bagi kami," tegas Agus Purnomo.
Komitmen dan Langkah Lapangan yang Agresif
"Saya instruksikan seluruh tim untuk bergerak cepat. Tidak ada waktu untuk menunda," ujar Agus dengan nada bicara yang lugas. "Rantai distribusi gizi dari hulu ke hilir harus bersih dari celah kelalaian. Sebagai langkah konkret, Rabu malam kemarin kami langsung melakukan inspeksi mendadak ke enam Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Jombang tanpa pemberitahuan sebelumnya."
Agus menjelaskan bahwa sidak tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan audit standar prosedur.
"Sidak ini bertujuan memastikan semua unit berjalan sesuai jalur. Fokus kita satu: tingkatkan kualitas gizi anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Ini bukan proyek jangka pendek, ini investasi besar untuk memutus mata rantai stunting menuju Indonesia Emas 2045. Siapa pun yang lalai dalam standar keamanan pangan, harus siap mempertanggungjawabkannya," cetus Agus.
Mengenai penyebab tumbangnya puluhan santri di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Agus mengimbau semua pihak untuk menahan diri dan tidak memperkeruh suasana dengan informasi yang tidak berdasar.
"Saya minta seluruh pihak tetap tenang. Berhenti membangun asumsi liar sebelum fakta ilmiah terungkap sepenuhnya," tegasnya. "Kami sedang bekerja sama dengan Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya. Biarkan para ahli mengidentifikasi penyebab pastinya secara objektif."
Agus merinci kemungkinan-kemungkinan yang tengah didalami oleh tim investigasi:
- "Kami minta masyarakat tidak berspekulasi. Apakah penyebabnya berasal dari nasi rawon olahan internal pondok, telur asin, atau komponen makanan lain dari SPPG? Semua kemungkinan sedang kami sisir secara saintifik."
- "Fakta medis adalah kebenaran objektif dalam kasus ini. Kita tunggu hasil uji laboratorium yang valid untuk menentukan titik simpul masalahnya."
Meskipun hasil uji cepat (rapid test) kimia yang dilakukan Dinas Kesehatan Jombang terhadap parameter Arsen, Formalin, Sianida, dan Nitrit menunjukkan hasil negatif, Agus menolak untuk bersikap lunak.
"Jangan cepat puas dengan hasil negatif pada parameter kimia dasar. Saya tetap mendorong pemeriksaan biologis yang jauh lebih mendalam," ujarnya dengan tegas. "Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap unit pelayanan (SPPG) benar-benar mematuhi standar keamanan pangan yang sangat ketat, tanpa terkecuali."
Ia menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi titik balik bagi penguatan sistem internal. "Insiden ini kami jadikan momentum emas untuk memperkuat sistem kontrol kualitas. Distribusi makanan bergizi harus menjadi solusi bagi masalah malnutrisi, bukan justru menjadi sumber masalah kesehatan baru bagi masyarakat."
Menutup penjelasannya, Agus menyampaikan kondisi terkini di lapangan. "Saat ini, mayoritas santri sudah dalam kondisi stabil. Namun, pengawasan tidak akan kami kendurkan. Satgas, Dinas Kesehatan, dan pihak kepolisian terus berkoordinasi secara intensif setiap jam."
"Kami pastikan penanganan darurat tuntas sepenuhnya. Untuk kesimpulan medis final, kami perkirakan memakan waktu hingga 10 hari kerja. Sampai saat itu tiba, kami akan terus mengawal proses ini hingga terang benderang," pungkas Agus Purnomo.(brown)
.jpg)