Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Wayang Masuk Sekolah sebagai Investasi Pendidikan Karakter dan Pelestarian Budaya

Monday, August 10, 2026 | August 10, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-10T01:42:18Z

 

Siswa diperkenalkan secara langsung dengan berbagai tokoh dan bentuk wayang kulit dalam kegiatan Wayang Masuk Sekolah di Pendopo Agung Kampung Adat Segunung, Kabupaten Jombang, Minggu (9/8/2026). Anak-anak diberi kesempatan mengenal, memegang, dan mempelajari wayang sebagai bagian dari edukasi pelestarian budaya sejak usia dini | Foto: Doc. Brown/Popularitas News


JOMBANG, POPULARITAS NEWS — Upaya pelestarian budaya di Kabupaten Jombang kembali mendapat ruang baru melalui program edukatif “Wayang Masuk Sekolah” yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang di Pendopo Agung Kampung Adat Segunung, Minggu (9/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Wiwit Kopi sekaligus sarana pembelajaran bagi siswa sekolah dasar untuk mengenal lebih dekat warisan budaya Nusantara, khususnya seni pewayangan.


Program yang digagas Bidang Kebudayaan Disdikbud Jombang tersebut menyasar siswa SDN Carangwulung 1 dan SDN Carangwulung 3. Dalam kegiatan ini, anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada tokoh-tokoh wayang secara teoritis, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan media budaya tersebut. Mereka diberi kesempatan memegang wayang, mengenali karakter, hingga mencoba memainkan peran sebagai dalang.


Bagi sebagian besar siswa, pengalaman ini menjadi momen pertama mereka bersentuhan langsung dengan wayang secara nyata. Selama ini, wayang mungkin hanya mereka kenal melalui buku pelajaran, cerita orang tua, atau sekadar pertunjukan yang sesekali ditonton. Namun dalam kegiatan ini, wayang hadir lebih dekat, lebih hidup, dan lebih mudah dipahami.


Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Jombang, Anom Antono, S.Sn., menegaskan bahwa pengenalan budaya tidak cukup hanya melalui penjelasan verbal. Anak-anak perlu mengalami langsung agar nilai-nilai budaya dapat tertanam lebih kuat. Menurutnya, wayang bukan sekadar seni pertunjukan, tetapi juga sarana pendidikan nilai kehidupan.


“Di dalam wayang terdapat banyak nilai kebaikan, kepedulian, dan filosofi kehidupan yang sangat dalam. Anak-anak harus mengenal itu secara utuh, bukan hanya sekadar tahu bentuknya,” ujarnya.

Siswa SDN Carangwulung 1 dan 3 mengikuti kegiatan pengenalan wayang dengan membawa tokoh-tokoh wayang kulit. Kegiatan ini menjadi pengalaman langsung bagi generasi muda untuk mengenal seni tradisional sekaligus memahami bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi penerus.
Foto: Doc. Brown/Popularitas News

Dalam kegiatan tersebut, siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku pembelajaran. Mereka mencoba menggerakkan wayang, memahami peran dalang, serta menyadari bahwa sebuah pertunjukan seni membutuhkan proses panjang, latihan, dan ketekunan.


Anom menekankan bahwa proses ini penting untuk menanamkan nilai disiplin dan kesabaran. “Menjadi seniman atau orang yang berhasil tidak bisa instan. Semua butuh proses. Itu yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak,” katanya.


Di tengah derasnya arus teknologi dan budaya populer, kegiatan seperti ini dinilai penting untuk menjaga kedekatan generasi muda dengan budaya lokal. Anak-anak yang terbiasa dengan gawai dan hiburan digital perlu diberi ruang untuk mengenal identitas budayanya sendiri agar tidak terputus dari akar tradisi.


Program ini juga menghadirkan pertunjukan wayang kulit oleh Ki Dalang Yudhistira Pamungkas dengan lakon “Widji Sejati”. Setelah sebelumnya mencoba memainkan wayang, anak-anak menyaksikan bagaimana tokoh-tokoh tersebut dihidupkan dalam sebuah pertunjukan lengkap dengan musik, suara, dan cerita.


Kegiatan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya soal mempertahankan bentuk seni, tetapi juga membangun pemahaman menyeluruh tentang proses di baliknya. Ada perajin, dalang, seniman, dan masyarakat yang terlibat dalam menjaga keberlangsungan tradisi tersebut.


Anom juga menegaskan pentingnya peran orang tua dalam mendukung minat anak terhadap seni tradisional. Ia mengajak orang tua untuk memberi ruang bagi anak yang ingin belajar di sanggar atau mendalami kesenian daerah. “Kalau anak-anak ingin belajar seni, berikan kesempatan. Arahkan mereka ke sanggar agar bisa belajar lebih dalam,” pesannya.


Menurutnya, kesenian tradisional tidak hanya membentuk keterampilan, tetapi juga karakter. Anak yang mengenal seni akan tumbuh dengan kepekaan, kelembutan, dan pemahaman nilai kehidupan yang lebih baik.


Melalui program Wayang Masuk Sekolah, Disdikbud Jombang berharap lahir generasi yang tidak hanya mengenal budaya, tetapi juga mencintai dan merasa memiliki warisan tersebut. Dari pengalaman sederhana memegang wayang, diharapkan tumbuh rasa ingin tahu, kecintaan, hingga kepedulian untuk menjaga budaya di masa depan. (Red) 



Penulis: RonnyBrown

Redaksi: PopularitasNews.com

Copyright © POPULARITAS NEWS 2026

×
Berita Terbaru Update