Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menjaga Ruh Cirebon di Usia 599 Tahun

Tuesday, June 16, 2026 | June 16, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-16T07:40:24Z


CIREBON, POPULARITAS NEWS 
Menjelang peringatan Hari Jadi Cirebon ke-599, Pemerintah Kota Cirebon memilih memulai rangkaian perayaan bukan dengan kemeriahan panggung atau pesta rakyat, melainkan melalui jalan yang sejak lama menjadi bagian dari tradisi masyarakatnya: berdoa, berziarah, dan menapak kembali jejak para leluhur.


Senin (15/6/2026), Wali Kota Cirebon Effendi Edo bersama jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, dan para kepala perangkat daerah melaksanakan salat berjamaah di Masjid Sang Cipta Rasa Kesepuhan, kemudian melanjutkan ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati. Dua tempat yang bukan hanya menjadi ikon sejarah, tetapi juga simbol lahir dan tumbuhnya peradaban Cirebon.


Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, tradisi semacam ini memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar agenda seremonial tahunan. Ia menjadi pengingat bahwa sebuah kota tidak dibangun hanya oleh beton, jalan raya, atau gedung-gedung tinggi, melainkan juga oleh nilai, ingatan kolektif, dan warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Masjid Sang Cipta Rasa dan kompleks Makam Sunan Gunung Jati merupakan bagian dari denyut sejarah Cirebon. Dari tempat-tempat inilah jejak penyebaran Islam, perkembangan kebudayaan pesisir, hingga tumbuhnya masyarakat yang majemuk dapat ditelusuri. Cirebon sejak awal dikenal sebagai "Caruban", sebuah ruang pertemuan berbagai etnis, budaya, bahasa, dan tradisi yang kemudian melebur menjadi identitas khas masyarakatnya.


Karena itu, peringatan hari jadi bukan semata-mata mengenang angka usia yang hampir mencapai enam abad. Lebih dari itu, momentum ini menjadi ruang refleksi tentang bagaimana masyarakat Cirebon menjaga jati dirinya di tengah perubahan zaman.


Wali Kota Effendi Edo menegaskan bahwa tradisi doa bersama dan ziarah merupakan bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan fondasi kehidupan masyarakat Cirebon. Baginya, pembangunan yang berlangsung hari ini tidak boleh membuat generasi sekarang melupakan akar sejarah yang menjadi sumber nilai dan kebijaksanaan.


Pernyataan tersebut terasa relevan di tengah tantangan yang dihadapi banyak daerah saat ini. Tidak sedikit kota yang tumbuh pesat secara fisik, namun perlahan kehilangan karakter budayanya. Cirebon justru berupaya menunjukkan bahwa kemajuan dan pelestarian tradisi bukanlah dua hal yang saling bertentangan.


Tema Hari Jadi Cirebon ke-599, "Manunggal Winangun Caruban", mencerminkan semangat tersebut. Filosofi itu mengandung pesan bahwa keberagaman yang sejak dahulu menjadi ciri khas Cirebon harus terus dirawat sebagai kekuatan utama dalam membangun masa depan. Persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan masyarakat menjaga harmoni di tengah perbedaan.


Di usia yang hampir menginjak enam abad, Cirebon sesungguhnya sedang mengirim pesan penting kepada generasi mudanya. Bahwa sejarah bukan sekadar cerita masa lalu yang tersimpan di buku atau situs budaya. Sejarah adalah fondasi yang membentuk identitas sebuah masyarakat.


Melalui doa, ziarah, dan penghormatan kepada warisan leluhur, peringatan Hari Jadi Cirebon tahun ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah kota tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan infrastruktur. Kemajuan juga ditentukan oleh kemampuannya menjaga ruh kebudayaan yang membuat kota itu tetap dikenali oleh warganya sendiri.


Dan selama nilai-nilai itu tetap hidup, Cirebon tidak hanya akan bertambah usia, tetapi juga tetap memiliki jiwa yang kuat sebagai kota budaya yang tumbuh dari keberagaman, kearifan lokal, dan penghormatan kepada sejarahnya.


Jurnalis: Supriyanto

Editor: RonnyBrown

Redaksi: PopularitasNews.com

×
Berita Terbaru Update