JOMBANG, POPULARITAS NEWS — Empat puluh menit di kompleks kasepuhan KH Abdul Wahab Hasbullah, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, mengakhiri teka-teki perebutan pucuk pimpinan Nahdlatul Ulama.
Senin, 31 Agustus 2026, sekitar pukul 06.20 WIB, sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) memasuki musyawarah untuk menentukan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031.
Dari lima nama yang diajukan, musyawarah berlangsung singkat. Sekitar pukul 07.23 WIB, keputusan diambil secara mufakat. KH. Kikin Abdul Hakim Mahfudz atau ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU 2026–2031.
Empat puluh menit itu menjadi titik akhir kontestasi. Namun sekaligus menjadi awal dari pertanyaan yang jauh lebih besar.
Mengapa hasil akhir Muktamar NU ke-35 begitu dekat dengan konfigurasi paket yang telah beredar sebelum pemilihan?
Dua nama, dua puncak kekuasaan NU
Jauh sebelum Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum, nama dirinya telah muncul bersama Kiai Miftachul Akhyar dalam konfigurasi yang disebut sebagai paket kepemimpinan PBNU.
Gus Kikin untuk Ketua Umum.
Kiai Miftachul Akhyar untuk Rais Aam.
Kini, konfigurasi tersebut telah menemukan bentuk akhirnya.
Kiai Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam. Gus Kikin ditetapkan sebagai Ketua Umum.
Dua nama.
Dua jabatan tertinggi.
Dan satu konfigurasi yang sebelumnya telah menjadi bahan pembicaraan politik di sekitar muktamar.
Apakah ini kebetulan?
Atau sebuah amanat paket yang memang telah disiapkan?
Jejak paket sebelum muktamar
Rangkaian informasi yang muncul sebelum Muktamar ke-35 menunjukkan adanya konsolidasi yang mengarah pada pasangan tersebut.
Laporan investigasi oleh media Tempo, sebelumnya mengungkap pertemuan tertutup di Wisma Negara yang disebut membahas peta kandidat dan konfigurasi kepemimpinan NU.
Sejumlah pejabat dan tokoh pemerintahan disebut hadir dalam pertemuan tersebut.
Nama Menteri ATR/BPN Nusron Wahid dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul termasuk dalam rangkaian nama yang muncul.
Setelah itu, konsolidasi bergerak ke tingkat daerah.
Pertemuan dengan sejumlah pengurus cabang disebut berlangsung di Jawa Tengah. Pesan mengenai konfigurasi Gus Kikin dan Kiai Miftachul Akhyar disebut ikut disampaikan.
Kemudian, menjelang pembukaan muktamar, konsolidasi kembali berlangsung di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.
Di sana, isu AHWA menjadi salah satu titik penting.
Karena siapa yang berada di dalam AHWA akan menentukan siapa yang duduk sebagai Rais Aam.
AHWA: delapan menjadi sembilan
Kronologi penentuan Rais Aam juga menyisakan catatan penting.
Delapan anggota AHWA terlebih dahulu melakukan musyawarah dan mencapai mufakat untuk menetapkan Kiai Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam.
Setelah mufakat tersebut terbentuk, satu anggota tambahan masuk dengan alasan representasi tuan rumah Jawa Timur.
KH Jazuli Huda kemudian dipercaya menjadi Ketua AHWA.
Dengan demikian, terdapat perbedaan waktu antara terbentuknya mufakat awal dan masuknya anggota tambahan tersebut.
Fakta kronologis ini penting untuk dicatat karena keputusan mengenai Rais Aam telah menemukan bentuk ketika komposisi awal masih berjumlah delapan anggota.
Dan hasil akhirnya?
Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam.
Gus Kikin: 472 suara
Di jalur Ketua Umum, peta juga bergerak ke arah yang sama.
Sebanyak 19 nama muncul dari usulan muktamirin perwakilan PC.
Gus Kikin berada di posisi teratas dengan 472 suara.
Angka tersebut menjadi modal politik paling kuat dalam bursa Ketua Umum.
Menariknya, sejumlah nama yang memiliki irisan dengan pemerintahan justru tidak sampai ke tahap akhir.
Nusron Wahid sempat masuk lima besar, tetapi langkahnya terhenti karena persoalan administrasi terkait statusnya sebagai wakil menteri.
Saat dinyatakan tidak lolos, Nusron melontarkan kalimat yang kemudian menarik perhatian:
“Terima kasih atas pertunjukan lelucon ini.”
Gus Ipul juga tidak berlanjut dalam kontestasi.
Rangkaian gugurnya sejumlah figur tersebut kemudian mengubah peta persaingan.
Ruang kontestasi semakin mengerucut.
Dan Gus Kikin justru berada di posisi teratas.
Dari konfigurasi menjadi keputusan
Di sinilah rangkaian peristiwa mulai bertemu.
Sebelum muktamar:
Gus Kikin–Miftachul Akhyar disebut sebagai paket.
Dalam proses AHWA:
Miftachul Akhyar kembali menjadi Rais Aam.
Dalam penjaringan Ketua Umum:
Gus Kikin memperoleh 472 suara dan berada di posisi pertama.
Pada pagi 31 Agustus: AHWA menetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU melalui mufakat.
Jika seluruh peristiwa itu dibaca sebagai satu garis waktu, hasil akhirnya memang menyerupai konfigurasi yang telah muncul sebelum pemilihan.
Kesamaan antara paket yang beredar dan hasil akhir bukan dengan sendirinya membuktikan adanya instruksi dari Istana.
Istana mengatakan tidak cawe-cawe
Presiden Prabowo Subianto saat membuka Muktamar ke-35 menyatakan dirinya tidak ikut campur dalam urusan internal NU.
Pernyataan itu menjadi bagian penting dalam membaca hasil muktamar.
Sebab yang dipersoalkan bukan semata apakah Presiden secara langsung memberikan instruksi.
Pertanyaannya jauh lebih luas:
Apakah terdapat aktor-aktor di sekitar kekuasaan yang bergerak untuk membangun konfigurasi kepemimpinan tertentu?
Jika ada, siapa mereka?
Siapa yang mengonsolidasikan?
Siapa yang membawa pesan?
Dan apakah seluruh pergerakan itu memiliki hubungan langsung dengan Istana atau berjalan sebagai inisiatif politik masing-masing aktor?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum selesai.
Paket kebetulan?
Kini, dua kursi tertinggi PBNU telah terisi.
Kiai Miftachul Akhyar menjadi Rais Aam.
Gus Kikin menjadi Ketua Umum.
Keduanya adalah dua nama yang sebelumnya disebut dalam satu konfigurasi paket.
Hasil tersebut tidak otomatis membuktikan adanya “Amanat”.
Tetapi juga terlalu penting untuk sekadar disebut kebetulan tanpa menelusuri seluruh jejak di belakangnya.
Muktamar ke-35 akhirnya memberikan sebuah fakta yang sulit dibantah:
paket yang sebelumnya beredar di luar arena kini menjadi realitas di dalam struktur kepemimpinan organisasi Nahdlatul Ulama.
Jawabannya ada pada jejak siapa yang bergerak sebelum suara diberikan, dan bagaimana paket itu akhirnya sampai di garis finis. (Red)
Penulis: RonnyBrown
Redaksi: PopularitasNews.com
©Copyright POPULARITAS NEWS 2026
