Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tensi Muktamar NU Memanas: Dugaan Intimidasi hingga Adu Jotos Mencuat, Gus Salam: Ini Patut Dikecam!

Saturday, August 29, 2026 | August 29, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-29T10:15:18Z

 

Calon Ketua Umum PBNU KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) bersama sejumlah pengurus dan tokoh NU menyampaikan keterangan kepada awak media terkait dinamika Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026)

JOMBANG, POPULARITAS NEWS – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai diwarnai tensi panas. Forum yang semestinya menjadi ruang musyawarah para ulama dan nahdliyin justru terseret ke dalam dugaan intimidasi, karantina hingga kekerasan fisik.


Situasi memanas menjelang penentuan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pertarungan mekanisme pemilihan antara Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dan voting tak lagi sekadar adu argumen di ruang sidang.


Menurut salah satu calon Ketua Umum PBNU, KH Abdussalam Shohib alias Gus Salam, tekanan terhadap muktamirin bahkan disebut sudah menyentuh ranah fisik dan psikologis.


Gus Salam mengungkap dugaan tersebut kepada sejumlah wartawan, Sabtu (29/8/2026).


Ia menyebut muktamirin dari PCNU, PWNU se-Indonesia hingga perwakilan PCNU luar negeri yang datang ke Tambakberas untuk bermusyawarah justru menghadapi situasi yang menurutnya jauh dari kata aman dan nyaman.


Bukan lagi sekadar panas di forum. Gus Salam menuding tensi perebutan pengaruh dalam Muktamar NU ke-35 telah merembet ke tekanan terhadap peserta.


“Akibat tekanan konflik tajam PBNU di daerah Muktamar, terdapat intimidasi struktural atas nama kuasa PBNU, kepanitiaan dan atau pejabat negara terjadi masif di Muktamar,” kata Gus Salam.


Tudingan itu menjadi sorotan serius. Apalagi, menurut Gus Salam, tekanan tersebut bukan hanya dirasakan secara politik, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis para muktamirin.


Dugaan Karantina dan Tekanan Psikologis


Gus Salam juga menyoroti dugaan adanya karantina terhadap sejumlah muktamirin.


Ia menilai, jika praktik tersebut benar terjadi dan dilakukan secara berlebihan, persoalannya bukan lagi sebatas pengaturan peserta muktamar. Menurutnya, kondisi itu dapat mengganggu kebebasan muktamirin dalam menjalankan hak musyawarah.


“Karantina yang disertai dengan berbagai upaya-upaya yang tidak baik, yang dilakukan secara struktural dan berlebihan, tidak hanya menciptakan luka tapi juga membuat trauma dan juga membebani psikologis. Dan ini juga diketahui dan dirasakan oleh para masyayikh,” ujarnya.


Keresahan, kata Gus Salam, bahkan telah sampai ke telinga sejumlah masyayikh.


Ia mengaku menerima berbagai keluhan terkait dinamika yang terjadi selama Muktamar NU ke-35.


Di titik ini, pertarungan Ahwa versus voting menjadi semakin sensitif. Sebab, mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU bukan hanya menentukan siapa yang akan memimpin organisasi, tetapi juga menjadi pertaruhan bagaimana tradisi musyawarah NU dijalankan.


Gus Salam sendiri menegaskan bahwa pencalonannya bukan semata-mata mengejar posisi.


Ia menyebut dirinya mendapat dorongan dari para masyayikh dan kiai sepuh NU pesantren untuk ikut berikhtiar dalam kontestasi tersebut.


“Saya Abdussalam Shohib dalam muktamar ini tidak hanya diperintah masyayikh, kiai sepuh NU pesantren untuk berikhtiar menjadi pemimpin PBNU dengan cara santun dan beradab, juga berbenah untuk misi mengembalikan marwah NU, ulama serta melakukan rekonsiliasi total dalam khidmah berjamaah NU dan ber-NKRI,” paparnya.


Dugaan Pemukulan Mencuat


Namun, tensi panas itu kemudian berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih serius.


Gus Salam mengungkap dugaan pemukulan terhadap salah satu pengurus PCNU yang disebut dilakukan oleh oknum PWNU.


Ia mengatakan dugaan kekerasan tersebut telah dilaporkan kepada Polres Jombang.


“Ada salah satu teman kami dari daerah yang itu mengalami kekerasan oleh PWNU-nya, dan juga sudah dilaporkan ke polisi, Polres Jombang,” kata Gus Salam.


Menurut Gus Salam, dugaan pemukulan itu berkaitan dengan sikap politik korban dalam menentukan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.


Ia menyebut pengurus PCNU tersebut diduga menjadi sasaran kekerasan karena tidak mengikuti arahan PWNU untuk mendukung mekanisme Ahwa.


“Sebabnya karena mereka tidak mengikuti arahan Ahwa oleh PWNU-nya,” ujarnya.


Gus Salam menyebut korban telah menjalani pemeriksaan medis dan visum setelah laporan disampaikan kepada kepolisian.


“Tadi malam datang ke sini, dan ini tadi sudah visum. Dan kejadian ini patut dikecam. Ada kekerasan di tengah-tengah muktamar ini sangat memprihatinkan,” tegasnya.


Saat ditanya mengenai bentuk kekerasan yang dialami korban, Gus Salam menyebut korban diduga dipukul pada bagian wajah sebelah kiri.


“Dipukuli, itu pengurus PC, dan kejadiannya di Jombang. Untuk detailnya siapa dan dari mana kami belum bisa menjelaskan ke publik, tapi yang jelas ini sudah dilaporkan ke polisi,” tuturnya.


Gus Salam menegaskan, sejauh ini baru satu orang yang melaporkan dugaan kekerasan tersebut kepada pihaknya.


Namun, ia mengklaim persoalan keresahan muktamirin jauh lebih luas daripada satu kasus yang telah dilaporkan.


“Sementara masih satu yang melapor ke kami, tapi bahwa keresahan-keresahan yang dialami oleh muktamirin, termasuk karantina di sana-sini itu terjadi cukup masif,” ujarnya.


Ia kembali menegaskan bahwa korban diduga mengalami pemukulan pada bagian wajah sebelah kiri.


“Dipukul di wajah bagian kiri,” pungkasnya.


Polisi: Masih Dicek


Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Magribi Saputra, dikonfirmasi mengenai laporan dugaan pemukulan yang disebut telah masuk ke kepolisian.


Magribi belum memberikan keterangan lebih jauh mengenai identitas pelapor, terlapor maupun kronologi kejadian.


Ia hanya menyatakan masih melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut.


“Saya cek dulu, Pak,” kata Magribi.


Artinya, dugaan kekerasan yang disampaikan Gus Salam masih membutuhkan verifikasi dan penanganan lebih lanjut dari aparat penegak hukum.


Namun, mencuatnya dugaan intimidasi, karantina dan pemukulan di tengah Muktamar NU ke-35 jelas menambah bara dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.


Forum yang seharusnya menjadi panggung tabayun justru diguncang tudingan tekanan. Musyawarah yang semestinya adem malah memanas. Perbedaan pilihan yang idealnya diselesaikan dengan adab kini disebut telah menyerempet dugaan kekerasan.


Pertanyaan besarnya kini bukan cuma Ahwa atau voting.


Lebih jauh, Muktamar NU ke-35 sedang diuji: mampukah seluruh pihak menahan ego, menghentikan segala bentuk tekanan, dan mengembalikan pertarungan kepemimpinan kepada marwah musyawarah NU?


Sebab jika benar perbedaan pilihan sampai berujung intimidasi dan pemukulan, persoalannya bukan lagi siapa menang dan siapa kalah.


Ini soal wajah NU di hadapan para ulama, nahdliyin, dan publik. (Red) 



Penulis: RonnyBrown

Redaksi: PopularitasNews.com

©Copyright POPULARITAS NEWS 2026

×
Berita Terbaru Update