Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Disrupsi Digital Tak Perlu Ditakuti, Ini Pesan Dewan Pers di HPN 2026

Monday, February 9, 2026 | February 09, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-09T21:50:57Z


 

BANTEN, PopularitasNews.com – Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menegaskan bahwa disrupsi digital bukanlah ancaman baru bagi peradaban manusia. Justru sebaliknya, disrupsi adalah bagian alami dari perjalanan sejarah yang selalu mendorong kemajuan, termasuk bagi dunia pers.


Hal itu disampaikan Komaruddin dalam Konvensi Nasional Media Massa pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Serang, Banten, Minggu (8/2/2026).


Menurut Komaruddin, sejarah manusia selalu bergerak melalui pola tesis, antitesis, dan sintesis. Artinya, perubahan dan gangguan termasuk disrupsi digital adalah sesuatu yang pasti dan berulang.

“Disrupsi itu bukan hal aneh. Ia selalu hadir di panggung sejarah, dan justru karena disrupsi itulah peradaban manusia terus maju,” ujarnya.


Tiga Sikap Menghadapi Disrupsi Digital


Komaruddin menjelaskan bahwa tidak semua orang merespons disrupsi dengan cara yang sama. Ia membagi respons masyarakat ke dalam tiga kelompok.


Pertama, kelompok yang merasa kalah dan hanya mengeluh terhadap perubahan. Kedua, kelompok yang memilih bertahan sambil menunggu momentum. Ketiga, kelompok kreatif dan pionir yang mampu melihat peluang dan membuka jalan baru.

“Kelompok terakhir inilah yang biasanya menjadi motor perubahan,” kata Komaruddin.


Disrupsi Digital Ibarat Banjir Informasi


Ia mengibaratkan disrupsi digital seperti banjir akibat hujan lebat. Awalnya memang menimbulkan kekacauan, lumpur di mana-mana, sawah rusak, dan masyarakat kebingungan. Namun dalam jangka panjang, banjir juga membawa kesuburan dan mendorong penataan yang lebih baik.


Analogi ini, menurutnya, sangat relevan dengan kondisi media saat ini. Arus informasi yang deras, hoaks, dan misinformasi membuat ruang publik terasa “keruh”. Namun pada akhirnya, masyarakat akan mencari “air bersih”, yakni sumber informasi yang kredibel dan bisa dipercaya.

“Saat masyarakat jenuh dengan hoaks dan informasi toksik, mereka akan kembali mencari media yang terpercaya,” tegasnya.


Media Arus Utama Masih Jadi Rujukan


Komaruddin mengungkapkan hasil riset Outlook Media 2026 Dewan Pers yang menunjukkan bahwa meskipun masyarakat gemar mengonsumsi media sosial yang penuh sensasi, mereka tetap menjadikan media arus utama sebagai rujukan utama untuk informasi yang akurat.


Ia menyebut pers berperan sebagai penyuling informasi, yang menyaring berbagai informasi mentah agar layak dikonsumsi publik.


Pemerintah Tegaskan Komitmen Jaga Pers


Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menilai pers Indonesia tengah berada di fase penting dengan tantangan yang tidak ringan, terutama di tengah maraknya misinformasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

“Tantangannya besar, tapi kita yakin bisa melaluinya bersama. Masyarakat saat ini bukan hanya butuh informasi cepat, tapi juga tepat,” ujar Meutya.


Ia menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga kebebasan pers dan kebebasan berekspresi, namun tetap dalam koridor tanggung jawab. Menurutnya, pers memiliki peran strategis bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga melindungi masyarakat dari informasi yang menyesatkan.


Pers Sehat, Demokrasi Kuat


Meutya juga menekankan pentingnya keberlanjutan pers, baik dari sisi ekonomi, etika jurnalistik, maupun kepercayaan publik. Disinformasi, katanya, bisa menjadi ancaman serius bagi kredibilitas media.

“Pers yang sehat adalah pers yang dipercaya. Jika kepercayaan publik runtuh, maka demokrasi ikut melemah,” ujarnya.


Pemerintah pun mendorong penguatan ekosistem informasi yang bertanggung jawab, objektif, edukatif, dan sehat, agar pers nasional tetap menjadi pilar demokrasi di tengah derasnya arus informasi digital. (brown)

×
Berita Terbaru Update