JOMBANG, PopularitasNews.com - Ketua Umum Jombang Ibukota Nahdliyin (JIK-NAH), Muhtazuddin, menyampaikan pandangannya terkait dinamika demokrasi dan peran pemuda dalam menyampaikan aspirasi publik di tengah situasi politik nasional yang berkembang. Ia menegaskan bahwa kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasi tetap harus dibingkai oleh etika, adab, dan tanggung jawab kebangsaan.
Menurut Muhtazuddin, demokrasi yang berjalan di Indonesia tidak boleh dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Ia menyebut demokrasi perlu dipimpin oleh nilai konstitusi dan moral publik agar tidak kebablasan.
“Demokrasi terpimpin yang saya maksud bukanlah pembungkaman kritik, melainkan penegasan bahwa setiap kebebasan harus selaras dengan etika dan konstitusi. Pemuda harus tetap kritis, tetapi juga menjaga persatuan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).
Ia juga menyoroti ramainya pemberitaan mengenai pernyataan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, dalam menyampaikan aspirasi terhadap pemerintah. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal wajar dalam demokrasi, namun cara penyampaian harus tetap mencerminkan kedewasaan.
“Jiwa pemuda sejatinya bukan hanya berani bersuara, tetapi mampu menyatukan. Jika penyampaian aspirasi justru memicu polarisasi dan perpecahan, maka perlu ada refleksi bersama,” katanya.
Muhtazuddin membandingkan dengan dinamika gerakan mahasiswa pada era Orde Baru, yang menurutnya mengedepankan semangat kolektif dan persatuan dalam menyuarakan tuntutan.
“Pemuda di masa lalu bersuara dalam barisan persatuan yang jelas arah perjuangannya. Kritik disampaikan sebagai kekuatan moral bersama, bukan untuk memperlebar jurang perbedaan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai kedaulatan rakyat dalam satu dekade terakhir mengalami tantangan yang tidak ringan. Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk menyampaikan aspirasi dengan pendekatan solutif.
“Kedaulatan rakyat yang telah lama mengalami degradasi ini harus kita pulihkan dengan partisipasi yang sehat. Mari para pemuda menyampaikan aspirasi dengan solusi konkret, bukan menjadikan aspirasi sebagai propaganda,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa perlindungan terhadap konstitusi berakar dari kemurnian adab. Sebagai bangsa timur, kata dia, Indonesia dikenal karena nilai teposliro dan kesantunan yang menjadi identitas di mata dunia.
“Konstitusi akan kuat jika ditopang karakter yang beradab. Kita dihormati karena budaya santun dan saling menghargai. Nilai itu harus tetap dijaga dalam setiap ruang demokrasi,” pungkasnya.
.jpg)