MOJOKERTO, POPULARITAS NEWS | Upaya penyelamatan fisik terhadap aset sejarah peninggalan Kemaharajaan Majapahit di Kabupaten Mojokerto resmi memasuki babak baru. Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Jawa Timur bersama pemerintah daerah setempat mulai menggeber rangkaian agenda pemugaran untuk dua situs penting: Situs Klinterejo di Kecamatan Sooko dan Situs Kumitir di Kecamatan Jatirejo.
Langkah ini menjadi angin segar bagi penyelamatan peradaban Nusantara. Para arkeolog berlomba dengan waktu untuk merekonstruksi kembali kemegahan masa lalu yang sempat terpendam berabad-abad di bawah tanah sedimen purba.
Fokus Pemugaran Sektor Utara Klinterejo
Pada Situs Klinterejo, tim ahli mengonsentrasikan fokus rekonstruksi fisik pada struktur dinding pembatas atau pagar luar di sektor utara. Struktur benteng kuno sepanjang 183 meter yang melintang dari arah timur ke barat tersebut akan menerima penguatan struktural. Tim arkeolog menggunakan susunan beberapa lapis bata baru yang memiliki spesifikasi, dimensi, dan material serupa dengan bata aslinya demi menjaga otentisitas situs.
Kabid Kebudayaan Disbudporapar Kabupaten Mojokerto, Riedy Prastowo, menjelaskan bahwa pihak kebudayaan sengaja membatasi intervensi pemulihan ini di zona luar. Pemda belum menyentuh area sakral atau pusat inti situs pada tahap ini.
"Langkah pemugaran di Klinterejo difokuskan pada sektor utara, jadi belum menjangkau kawasan inti," urai Riedy.
![]() |
| Struktur situs perbatasan pagar keliling candi Bhre Kahuripan |
Mengingat luas total Situs Klinterejo yang mencapai 6 hektare, tim melakukan pemugaran secara parsial. Kebijakan serupa juga berlaku di Situs Kumitir. Prioritas pemulihan fisik di Kumitir mutlak bersandar pada ketersediaan data arkeologis serta status kepemilikan t
"Kami mendahulukan area-area yang status lahannya sudah steril atau berhasil dibebaskan oleh pemerintah. Polanya dilakukan bertahap," tambah Riedy.
Ekskavasi Lapangan Desa: Berburu Cetak Biru Hayam Wuruk
Menariknya, selain memugar fisik bangunan, tim arkeolog juga menurunkan tim paralel untuk melakukan penggalian (ekskavasi) lanjutan di Klinterejo. Targetnya kali ini mengarah pada area lapangan desa. Tim menduga kuat kawasan lapangan tersebut merupakan bagian tengah dari kompleks suci bentukan Raja Hayam Wuruk. Sebaliknya, untuk Situs Kumitir, pihak BPK meniadakan agenda ekskavasi untuk periode anggaran ini.
Kepala BPK Wilayah XI Jatim, Endah Budi Heryani, menegaskan bahwa data dari ekskavasi lapangan desa Klinterejo tahun ini akan memegang peranan krusial. Hasil temuan lapangan bakal menjadi cetak biru (blueprint) penting bagi kelanjutan proyek pemugaran pada tahun anggaran berikutnya.
![]() |
| Jalan penghubung desa Klinterejo, Sooko |
Menembus Jalan Aspal, Mengungkap Luas Candi Bhre Kahuripan
Tabir misteri kemegahan situs purbakala di Bumi Majapahit ini memang terus tersingkap. Kini, tim arkeolog tengah mengarahkan fokus penuh pada sebuah jalan aspal antardesa di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko. Langkah krusial ini bertujuan untuk memastikan apakah struktur bangunan kuno peninggalan masa lampau membentang luas tepat di bawah jalur transportasi aktif warga tersebut.
Penelitian ini memuncak setelah tim ekskavasi berhasil menemukan struktur penting berupa pagar keliling (perbataan) kuno. Temuan mencengangkan ini secara otomatis mengungkap estimasi total luas kompleks Candi Bhre Kahuripan (Situs Klinterejo) yang ternyata mencapai angka fantastis, yakni 22.143 meter persegi.
Namun, rekonstruksi denah asli tempat pendarmaan yang menjadi lokasi hilangnya atau meninggalnya Tribhuwana Tunggadewi ini harus berhadapan dengan tantangan nyata. Saat tim mulai menelusuri dan membongkar jalur pagar di sisi timur, para arkeolog terbentur oleh dinding aspal jalan utama yang menghubungkan antardesa.
Pemerintah daerah kini menghadapi tantangan besar untuk menyeimbangkan antara mitigasi penyelamatan cagar budaya kedewatan Majapahit dan pemenuhan kebutuhan fasilitas transportasi publik warga modern. Kesepakatan serta sinergi lintas sektor akan menjadi penentu utama apakah kemegahan utuh Candi Bhre Kahuripan dapat terselamatkan secara paripurna atau tidak. (brown)


