Oleh: Ronny Brown
Narasumber: Mouna Sri Wahyuni, S.Si, M.Si,
POPULARITAS NEWS | Matahari baru saja tergelincir di ufuk barat saat pintu-pintu ruko di sepanjang jalan protokol Jombang menutup lebih awal. Pemandangan toko fisik yang senyap kini menjadi pemandangan lazim, kontras dengan hiruk pikuk di layar gawai warga yang sibuk bertransaksi di marketplace. Fenomena ini bukan sekadar perubahan gaya belanja; ini adalah potret nyata pergeseran struktur ekonomi yang sedang kita alami.
Dalam sebuah diskusi interaktif yang mendalam bersama Kepala BPS Jombang, Mouna Sri Wahyuni, Selasa (12/5/2026), tabir di balik angka-angka statistik itu mulai tersingkap. Jombang sedang berada di persimpangan jalan antara kemajuan data makro dan kegelisahan ekonomi mikro.
Tren Penurunan Angka yang Menyimpan Tanya
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Jombang mencatat tren penurunan angka kemiskinan yang cukup konsisten. Jika pada tahun 2016 angka kemiskinan masih bertengger di angka 10 persen, kini pada 2024 angka tersebut melandai ke level 8,6 persen.
“Secara tren, angka kemiskinan di Jombang memang menunjukkan penurunan. Ini menandakan adanya perbaikan dalam indikator kesejahteraan berbasis data,” ungkap Mouna Sri Wahyuni dengan nada optimis namun tetap terukur. Namun, ia tidak menampik bahwa kenaikan sempat terjadi pada 2021 akibat guncangan pandemi Covid-19.
Pertanyaannya, benarkah penurunan angka ini mencerminkan kemandirian ekonomi? Mouna menjelaskan bahwa bantuan sosial (bansos) dari pemerintah memiliki peran vital. Bansos bekerja bagaikan pelampung yang menjaga konsumsi rumah tangga agar tidak tenggelam lebih dalam ke bawah garis kemiskinan. Tanpa intervensi tersebut, wajah kemiskinan kita mungkin akan tampak jauh lebih kelam.
Dari Sawah ke Pabrik: Pergeseran Tulang Punggung Ekonomi
Jombang bukan lagi sekadar lumbung padi. Struktur ekonomi kita telah bermetamorfosis. Sektor perdagangan kini memegang kendali utama dengan kontribusi sebesar 23 persen, disusul oleh industri pengolahan di angka 22 persen. Sektor pertanian yang dulu menjadi tulang punggung kini harus rela bergeser ke posisi berikutnya.
Perubahan ini terlihat nyata di wilayah utara Brantas hingga selatan. Pabrik-pabrik baru, mulai dari manufaktur komputer, mainan, hingga raksasa seperti PT Orang Tua, kini menjadi magnet baru. “Anak muda kita sekarang tidak lagi harus merantau ke Surabaya. Mereka memilih bekerja di pabrik-pabrik lokal seperti di Ploso, Peterongan, hingga Gudo,” tambah Mouna. Industrialisasi lokal ini menahan laju migrasi tenaga kerja keluar daerah, sebuah sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi domestik.
Memahami Ekonomi "Gaib" di Era Digital
Tutupnya ruko fisik sering kali memicu asumsi bahwa daya beli masyarakat sedang hancur. Namun, BPS memberikan perspektif berbeda. Transaksi ekonomi tidak hilang; ia hanya berpindah alamat ke ranah digital. BPS menghitung besaran pengeluaran, bukan lokasi fisik transaksi. Meski etalase fisik menemui senjakalanya, arus uang tetap mengalir deras di balik algoritma marketplace.
Namun, digitalisasi membawa tantangan baru. Garis kemiskinan konvensional mulai dipertanyakan relevansinya. Di tahun 2026, akses internet dan ponsel bukan lagi kebutuhan sekunder. Seseorang yang terputus dari dunia digital akan kesulitan mengakses lowongan kerja, informasi pasar, hingga bantuan pemerintah. Inilah yang kita sebut sebagai Digital Poverty.
Menjemput Rasa Aman Ekonomi
Diskusi panjang ini bermuara pada satu kesimpulan kritis: angka kemiskinan boleh saja turun, namun rasa aman ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih. Masyarakat masih merasakan tekanan daya beli dan ketatnya persaingan kerja. Penurunan kemiskinan secara statistik harus kita barengi dengan peningkatan pendapatan riil, bukan sekadar strategi bertahan hidup melalui subsidi.
Mouna Sri Wahyuni menegaskan bahwa pemerintah memerlukan intervensi yang masif dan merata di seluruh kecamatan. "Agar di mana pun sampel survei diambil, kondisinya tetap terkendali dan inklusif," pungkasnya.
Kita menutup hari di Jombang dengan sebuah kesadaran baru. Senjakala etalase fisik adalah undangan bagi kita untuk beradaptasi. Masa depan ekonomi Jombang tidak lagi terletak pada seberapa banyak toko yang berdiri di pinggir jalan, melainkan pada seberapa siap sumber daya manusia kita menguasai perahu digital untuk menjemput fajar kemakmuran yang lebih mandiri. (brown)
