JOMBANG, POPULARITAS NEWS — Setelah hampir empat dekade tenggelam dari panggung pertunjukan, Gambus Misri kembali menyala di tanah kelahirannya, Jombang. Kesenian tradisional yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat itu kini menemukan panggung baru melalui Festival Gambus Misri 2026 di Dusun Kendalsari, Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito, Senin (10/8/2026) malam.
Bukan sekadar pertunjukan nostalgia, festival tersebut menjadi penanda bahwa Gambus Misri belum benar-benar mati. Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus hiburan modern, kesenian yang memadukan musik gambus Melayu, tari, drama rakyat, lawakan, serta pesan-pesan keislaman itu kembali diperkenalkan kepada generasi muda.
Malam itu, panggung Gambus Misri mempertemukan dua zaman. Para maestro yang pernah merawat kesenian tersebut pada masa kejayaannya tampil berdampingan dengan generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Alfa. Pertemuan lintas generasi itu menjadi gambaran bahwa kebangkitan Gambus Misri bukan hanya tentang menghidupkan kembali pertunjukan lama, tetapi juga memastikan warisan tersebut memiliki penerus.
Gambus Misri merupakan kesenian khas Jombang yang diciptakan almarhum Pak Asfandi, seorang santri Tebuireng. Bentuk pertunjukannya memiliki karakter unik karena meminjam struktur drama rakyat atau ludruk, kemudian meramunya dengan sejumlah unsur seni.
Musik gambus berirama Melayu menjadi salah satu cirinya. Di dalamnya terdapat tarian yang terinspirasi gerakan Zapin, lagu-lagu bernuansa Islami, lawakan, serta cerita yang membawa pesan dakwah, moral, dan nilai sosial.
Karakter tersebut membuat Gambus Misri tidak sekadar menjadi hiburan. Di balik panggung dan kelucuan para pemainnya, tersimpan cara masyarakat Jombang pada masa lalu menyampaikan nasihat, nilai keagamaan, serta kritik sosial melalui seni pertunjukan.
Namun, perjalanan kesenian ini sempat terhenti. Gambus Misri mengalami masa vakum panjang hingga kurang lebih 40 tahun. Panggung-panggung yang dulu menjadi ruang hidupnya perlahan menghilang dan generasi yang mengenalnya pun semakin menua.
Upaya menghidupkan kembali kesenian ini mulai menemukan jalan pada 2018 ketika Yayasan Air Kita melakukan revitalisasi Gambus Misri. Setelah puluhan tahun mengalami mati suri, kesenian tersebut perlahan kembali diperkenalkan kepada masyarakat.
Kini, Festival Gambus Misri 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan kebangkitannya.
Ketua Penyelenggara Festival Gambus Misri Bintang 9, Anasrul Hakim, mengatakan gelaran tahun ini merupakan festival kedua yang diarahkan tidak hanya untuk pelestarian budaya, tetapi juga membangun ekosistem pendukung di tingkat masyarakat.
Menurutnya, Gambus Misri harus memiliki ruang tumbuh yang lebih luas. Karena itu, festival juga melibatkan pelaku UMKM lokal sehingga kegiatan kebudayaan tidak berhenti pada panggung pertunjukan, tetapi turut memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
"Harapan besar kami melalui kegiatan ini adalah menjadikan Desa Kendalsari sebagai salah satu Desa Wisata Edukasi Gambus Misri. Kami ingin kebudayaan ini tidak hanya lestari, tetapi juga memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga,” ujar Anasrul.
Harapan tersebut menunjukkan arah baru kebangkitan Gambus Misri. Dari sekadar menghidupkan kembali pertunjukan lama, kesenian ini diarahkan menjadi bagian dari identitas budaya, edukasi, sekaligus potensi wisata masyarakat.
Dukungan terhadap kebangkitan itu juga datang dari Pemerintah Kabupaten Jombang. Mewakili Bupati Jombang Warsubi, Wakil Bupati Salmanudin atau Gus Wabup menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Festival Gambus Misri 2026.
Gus Wabup bahkan memiliki ingatan personal terhadap kesenian tersebut. Ia mengaku telah mengenal Gambus Misri sejak berusia 12 tahun.
Menurutnya, keberlangsungan Gambus Misri sangat bergantung pada regenerasi. Tanpa keterlibatan generasi muda, kesenian tradisional berpotensi kembali tenggelam ketika para pelaku generasi lama tidak lagi mampu tampil di atas panggung.
"Kesenian Gambus Misri memiliki karakter yang sangat khas. Namun, tantangan kita saat ini adalah masih banyaknya generasi muda yang belum mengenalnya secara utuh,” tegas Gus Wabup saat membacakan amanat Bupati Jombang.
Pemkab Jombang, lanjutnya, berkomitmen menyediakan ruang ekspresi bagi para pelaku seni, baik melalui Gedung Kesenian, Pendopo Kabupaten maupun fasilitas pemerintah daerah lainnya.
Pesan tersebut menemukan bentuk nyata pada malam puncak festival.
Panggung tidak hanya menjadi milik para maestro. Pelajar dari SMK Unggulan NU Mojoagung turut tampil melalui Teater Dermaga. Mereka merupakan bagian dari generasi muda yang sebelumnya mengikuti Kemah Gambus Misri atau Gambus Misri Camp 2026 pada awal Juli.
Dalam kegiatan tersebut, para pelajar mempelajari teknik vokal, drama rakyat dan musik gambus secara langsung dari para maestro. Pengetahuan itu kemudian mereka bawa kembali ke lingkungan sekolah dan dipraktikkan bersama rekan-rekan mereka.
Regenerasi pun tidak berhenti sebagai wacana.
Di panggung yang sama, para maestro Gambus Misri Bintang 9 kembali menunjukkan kemampuan mereka. Kehadiran pembawa acara legendaris Gambus Misri era 1980-an, Aan Rosyadi dari Mawar Bersemi, semakin menghubungkan panggung masa lalu dengan generasi hari ini.
Festival Gambus Misri 2026 berlangsung selama dua hari. Hari pertama, Minggu (9/8/2026), diisi senam sehat bersama warga, lomba mewarnai yang diikuti 120 anak, pertunjukan seni antarsekolah, hingga penampilan Spectra Band yang membawakan lagu ikonik Gambus Misri, “Selamat Datang” dan “Berdoa”, dalam sentuhan musik modern.
Sementara malam puncak menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
Para pelaku seni senior membawa ingatan tentang Gambus Misri masa lalu, sedangkan anak-anak muda membawa energi baru untuk masa depannya.
Di titik itulah kebangkitan Gambus Misri menemukan maknanya.
Empat puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk sebuah kesenian menunggu panggung. Tetapi ketika musik kembali dimainkan, cerita kembali dituturkan, dan generasi muda mulai belajar meneruskannya, Gambus Misri seolah menemukan kembali denyut kehidupannya.
Festival di Kendalsari menjadi lebih dari sekadar perhelatan budaya. Ia menjadi bukti bahwa warisan yang sempat nyaris hilang masih dapat dibangkitkan ketika maestro, masyarakat, pemerintah dan generasi muda memilih untuk berjalan bersama.
Gambus Misri kini tidak hanya sedang mengenang kejayaannya.
Ia sedang mencoba menulis babak baru.
Penulis: RonnyBrown
Redaksi: PopularitasNews.com
Copyright © POPULARITAS NEWS

